Untold Story | Sembilan Pintu Naga (Kisah Aji Saka dan Baru Klinthing)

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Untold Story | Sembilan Pintu Naga (Kisah Aji Saka dan Baru Klinthing)

Keris Eyang Raga Runthing itu mungkin memang benar-benar ada (atau bahkan menjadi pusaka suatu kerajaan). Namun kisah di balik itu, bisa jadi hanyalah merupakan simbol (legitimasi) atas keberadaan dewan Wali Sanga. Mungkin ada kaitan silsilah antara para anggota dewan Wali Sanga dengan sosok Aji Saka.
---

Sambungan dari "Resi Wisaka (Aji Saka)"

Aji Saka dan Naga Baru Klinthing





Di setiap peninggalan peradaban kuno, pastilah mengenal Cerita Rakyat, Legenda atau Dongeng mengenai laut yang berpindah, danau/telaga/rawa yang terbentuk, atau banjir besar. Menurut tiga agama besar (Yahudi, Nasrani dan Islam) terdapat kisah banjir besar pada masa Nabi Nuh (Noah).

Legenda yang dikenal di (hampir seluruh) masyarakat Jawa, berawal dari peradaban yang dibentuk oleh Watugunung (Prabu Gilingwesi). Prabu Parikenan (pewaris Kerajaan Madang Kamulan), dalam Legenda Jawa, adalah garis awal keluarga Pandawa (Pandu) versi Jawa.

Namun sayang, nama Sadewa (kembaran Nakula) menjadi tokoh jahat yang membunuh Prabu Parikenan, untuk merebut kekuasaan Madang Kamulan. Sadewa, naik tahta bergelar Prabu Cingkaradewa atau Prabu Dewata Cengkar. Kisah ini pun berawal dari rawa yang berpindah-pindah di tanah Jawa. (Baca Resi Wisaka)

Legenda yang dikenal di tanah Jawa konon berasal dari karya-karya sastra sejak jaman Airlangga (Erlangga). Puncak kejayaan kesusastraan, adalah pada masa Sri Jayabaya. (Baca Seloka Bagian 2)

Dalam Legenda Jawa, Jayabaya adalah titisan Wisnu, keturunan Pandawa dari garis keturunan Arjuna, Abimanyu, Parikesit, yang nantinya ke Airlangga.

Karya-karya sastra ini, terus mengalami perkembangan hingga masa kekuasaan Giri Kedaton (peralihan dari Hindu ke Islam).

Munculnya nama Aji Saka, konon tertulis dalam Serat Jayabaya Musarar. Suatu hari, Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama itu, Jayabaya mendapat gambaran keadaan Pulau Jawa sejak zaman Aji Saka sampai datangnya hari kiamat.

Melihat nama ulama Maolana Ngali Samsujen dan nama Serat Jayabaya Musarar (Asrar), sangatlah bernuansa Islam. Bisa dipastikan, serat ini adalah gubahan pada masa Giri Kedaton.

Cerita turun-temurun berdasarkan tutur (tutur tular atau gethok tinular), senantiasa dipengaruhi oleh kondisi subyektif dari para penutur.

Bersamaan dengan munculnya tokoh Aji Saka, muncul pula sosok seekor Naga (atau ular raksasa) bernama Baru Klinthing. Baru Klinthing, dalam versi manapun, menuntut diakui sebagai anak Aji Saka. Awal hadirnya Baru Klinthing, berbeda-beda versi ceritanya.

Menurut beberapa penggalan kisah, Baru Klinthing disuruh melingkari sebuah gunung. Harus sempurna melingkar hingga kepala menyentuh ekor (atau tepung gelang).
Dalam satu versi, dikatakan ini adalah syarat agar bisa diakui sebagai anak oleh Aji Saka. Dalam versi lain, adalah syarat agar bisa berubah menjadi wujud manusia sempurna. Namun, nama gunung tempatnya melingkar pun berbeda-beda pada tiap versi cerita.

Dalam penggalan kisah lain, Baru Klinthing menjelma menjadi bocah yang doyan makan bernama Jaka Linglung. Namun dalam versi lain, Baru Klinthing menjadi bocah bajang (bocah kerdil), yang berkeliling meminta makan pada setiap penduduk desa.

Di beberapa penggalan kisah lain, Baru Klinthing (dalam wujud bocah bajang, Jaka Linglung, atau manusia buruk rupa lainnya) mendapat makan dari seorang wanita (beda versi, beda usia).

Sementara para penduduk desa lain tidak mau memberinya makan. Maka wanita itu diberi tahu akan ada banjir, dan disuruh menyiapkan lesung sebagai perahu dan centong nasi sebagai dayungnya.

Kepada para penduduk desa lain, Baru Klinthing memberi sayembara "cabut lidi". Lidi yang ditancapkan ke tanah oleh Baru Klinthing, tak seorang pun yang mampu mencabutnya.

Baru Klinthing sendirilah yang akhirnya mencabut lidi tersebut. Ajaibnya, ketika lidi itu tercabut, muncul air dari lobang bekas tancapan lidi tersebut. Makin lama, air itu makin deras keluar, dan menjadi air bah.

Mengacu pada awal kisah sastra Jayabaya, kejadian tersebut berada di Sumber Baru Klinthing (mata air Baru Klinthing) sekitar kerajaan Kediri. Menurut gubahan dari Giri Kedaton, kejadian itu menjadi Legenda Rawa Pening. Sementara menurut gubahan masa Sultan Agung Mataram, kejadian itu berada di sekitar Pengging.

Plot atau alur cerita antara "tepung gelang" dan "cabut lidi" ini pun, berbeda urutan pada tiap versi.

Melanjutkan plot "tepung gelang", akhirnya naga Baru Klinthing didatangi oleh seseorang. Banyak versi menyebutkan bahwa orang itu adalah Aji Saka sendiri atau utusan Aji Saka. Orang tersebut menyarankan sang naga untuk menjulurkan lidah menyentuh ekornya, agar sempurna membentuk tepung gelang.

Akhirnya lidah naga Baru Klinthing terjulur hingga menyentuh ekornya, dan sempurna membentuk tepung gelang. Saat itu juga, orang tersebut dengan segera memotong lidah naga Baru Klinthing.

Dalam satu versi, naga Baru Klinthing meraung keras dan menggelepar hingga tewas. Sementara potongan lidahnya meloncat jauh tinggi melayang ke langit.

Versi lain, menyebutkan lidah naga Baru Klinthing berubah menjadi senjata. Sementara tubuhnya menjadi manusia, atau ada tubuh manusia keluar dari tubuh naga (karena sempurna menunaikan syarat agar bisa menjadi manusia sempurna), namun meninggal sebagai manusia saat itu juga. Versi lain, menyebutkan tubuhnya lenyap.

Menurut versi yang jarang dituturkan, senjata dari lidah naga itu menjadi sebuah keris. Keris itu diberi nama Eyang Raga Runthing atau Naga Runthing. Konon, Runthing adalah kependekan dari nama Baru Klinthing. Namun, ada pula yang mengartikan Runthing sebagai "banyak pikiran".

Dipercaya, keris ini akan menyerap kembali tubuh naganya jika terbenam dalam air, dan sosok naga ini akan memangsa siapapun yang berada di dekatnya, termasuk si pemegang keris tersebut.

Keris ini berluk (lekuk) sembilan. Sebagai simbol dari "Sembilan Pintu Naga" atau "Hawa Sanga" atau sembilan lubang pada tubuh manusia (baca Safar di Cirebon, tentang Lawang Sanga). Dan angka sembilan pun menjadi simbol jumlah anggota dewan Wali Sanga.

Apakah kisah naga Baru Klinthing ini, nyata terjadi? Atau menjadi simbol atas sesuatu? Hanya penulis awal yang tahu persis akan hal ini. Karya sastra memang kadang lugas namun kadang sarat dengan simbol dan kode-kode.

Keris Eyang Raga Runthing itu mungkin memang benar-benar ada (atau bahkan menjadi pusaka suatu kerajaan). Namun kisah di balik itu, bisa jadi hanyalah merupakan simbol (legitimasi) atas keberadaan dewan Wali Sanga. Mungkin ada kaitan silsilah antara para anggota dewan Wali Sanga dengan sosok Aji Saka. (Baca kembali Puser Bumi dan Syekh Nurjati)


Bersambung ke "Kian santang"
atau
Lompat ke "Pulomas (Kerajaan Siluman di Indramayu)"
===

Aji Saka dan Baru Klinthing

===

5 komentar:

  1. keris naga runting memang ada,ujungnya patah setelah duel dngn keris setan kober. Skrg dpgang oleh pembesar kraton cirebon secara turun temurun..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Matur suwun sanget atas penjelasannya. Info ini sangat berguna bagi semua pembaca, khususnya bagi saya sendiri.

      Thx 4 Come & Comment

      Hapus
  2. apa keris yg diceritakan masih ada?krn ciri2 keris tsb spt keris yg ada pd keluarga saya,terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wallahu 'alam bisawab.

      Serat (karya sastra) tentang Aji Saka dan Baru Klinthing, telah ada sejak jaman Erlangga. Dan terus mengalami perkembangan.

      Serat itu mungkin berdasarkan kejadian. Tapi bisa juga berupa ramalan tentang kejadian.
      Bisa saja ada kejadian serupa (kejadian lain yang mirip atau sama dengan kejadian yang tertulis dalam serat, atau kejadian yang diramalkan oleh serat), bahkan terjadi berulang-ulang di beberapa tempat yang berbeda.

      Mengacu pada komentar "nobe eric" di atas, "dpgang oleh pembesar kraton cirebon secara turun temurun." berdasarkan versi cabang (carangan) "duel dengan keris setan kober"
      Nama Keris Setan Kober, bisa saja berarti "Seta Anu Kauber" atau "Seta Anis Kang Nguber". Sedangkan istilah Seta, mengacu pada nama Ular Gundala Seta (berwarna putih terang) yang bergerak secepat kilat, namun bisa ditangkap oleh Ki Ageng Selo atau Anis (anak Ki Ageng Selo Sepuh), kemudian ditempel di pintu masuk Masjid Agung Demak sebagai gambar Naga. Jadi maksudnya Keris Seta Anu Kauber atau Seta Anis Kang Nguber, adalah keris yang mampu mengejar dan menandingi Gundala Seta (Ular Putih atau Naga Langit).

      Coba cari tahu lagi dari kerabat anda sendiri, asal muasal keris yang ada di keluarga anda itu. Mungkin memang berhubungan dengan salah satu versi "Aji Saka dan Baru Klinthing. Entah versi yang mana.

      TFCC

      Hapus
  3. Maaf sekiranya Kliru Menyimak.. Pusaka Baru Klinthing ,Berwujud Tongkat...Semisal Ujung Dilepas ada, Bilah Tanpa Lekuk..?:- Bukan Keris...

    BalasHapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.