Pangeran Papak

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Pangeran Papak

Ada beberapa sosok dengan nama Pangeran Papak. Pangeran Papak yang dimaksud pada Makam Keramat Pedongkelan, adalah Adipati Tanjung Jaya. Beliau adalah salah satu dari Tujuh Wali Betawi.
---

Sambungan dari Makam Keramat Pedongkelan

Siapa Pangeran Papak Adipati Tanjung Jaya
(Keramat Pedongkelan)

Kramat Pedongkelan

HASIL Googling

Pertama kita lihat tulisan Pak Ridwan Saidi (pemerhati budaya Betawi), yang di copas di https://www.facebook.com/SalakanagaraFansPage/posts/667877663257711
dan http://blog-urangsunda.blogspot.com/2013/11/pangeran-papak-pejuang-terakhir-dari.html (tidak saya temukan lagi URL sumbernya, atau yang tanggalnya lebih dulu), berjudul "PANGERAN PAPAK, PEJUANG TERAKHIR DARI PAKUAN PAJAJARAN", tertulis
Mungkin Anda tidak mengetahui siapa sebenarnya Pangeran Papak. Pangeran Papak ini adalah salah satu menak Pajajaran pasca Prabu Siliwangi yang tidak mundur ke Garut. Sedangkan lainnya mundur ke Garut.
Uniknya, di Garut dia terkenal, bahkan ada kuburannya juga. Tak hanya itu, kuburannya juga ada di Cirebon. Jadi, Pangeran Papak ini memiliki tiga kuburan, yaitu di Garut, Cirebon, dan Kelapa Gading. Ya, kita tidak tahu mana kuburan yang benar-benar menyimpan jasad Pangeran Papak. Pangeran Papak dikenal mulai dari Gadog. Dia (Pangeran Papak), membina semangat penduduk Pajajaran setelah kejatuhan Pelabuhan Kalapa oleh Fatahilah.

--- Ada tiga makam Pangeran Papak, yang letaknya di tiga kota berbeda, tapi menurut Pak Ridwan Saidi adalah orang yang sama, yang bergerilya menentang Fatahilah. Artinya Pangeran Papak adalah pihak Pajajaran.

Kedua pada wiki http://id.wikipedia.org/wiki/Cinunuk,_Wanaraja,_Garut tertulis
Makam Raden Wangsa Muhammad,lebih dikenal dengan julukan Pangeran Papak penyebar Agama Islam di Garut.

Ketiga pada http://leluhurku.blogspot.com/2008/07/raden-pangeran-papak-dan-surak-ibra.html tertulis
"Surak Ibra" adalah salah satu kesenian yang berasal dari jawa barat, kesenian ini menurut catatan diciptakan oleh putra dari Raden Wangsa Muhammad yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Papak bernama Raden Djajadiwangsa pada 1910. Raden Djajadiwangsa merupakan orang kuwu (kepala desa) di Kampung Sindangsari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Garut.

Keempat pada http://id.wikipedia.org/wiki/Japura_Kidul,_Astanajapura,_Cirebon tertulis
Prabu Jaya Songara (Kian Santang) Adipati Awangga berputra Elang Tampian berkedudukan di Sindang Laut. Elang Tampian berputra Elang Junud. Elang Junud berputra : 1. Elang Cakra Madenda 2. Pangeran Papak.

Pangeran Papak diangkat menjadi Sultan Kanoman dengan gelar Sultan Giri Laya, berputra lima orang.

Kelima pada http://kian-santang.blogspot.com/2007/06/islamisasi-di-betawi.html
(bersumber dari Republika 13 Januari 2002, Oleh Alwi Shahab) tertulis
Salah seorang murid Kian Santang, yang juga menjadi penyebar Islam yang handal adalah Pangeran Papak, seorang adipati dari Tanjung Jaya yang kini lokasinya di Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Ratunya adalah Kiranawati, yang dimakamkan di Ratu Jaya, Depok. Menurut cerita rakyat, bila Ratu Kiranawati bepergian dengan kereta kuda, ia dilepas dengan mengumandangkan adzan.
--- Tulisan ini menyebut nama Ridwan Saidi (budayawan Betawi)
Dalam diskusi itu, Ridwan menyebutkan, dalam proses Islamisasi, terdapat tujuh wali Betawi. Antara lain, Pangeran Darmakumala dan Kumpi Datuk yang dimakamkan berdekatan, di tepi kali Ciliwung, dekat Kelapa Dua, Jakarta Timur. Kemudian Habib Sawangan, yang dimakamkan di depan Pesantren Al-Hamidiyah, Depok. Pangeran Papak, dimakamkan di Jl Perintis Kemerdekaan, Jakarta Timur. Wali lainnya, Ki Aling, menurut Ridwan, tidak diketahui makamnya. Ketujuh 'wali Betawi' ini, menurutnya, hidup sebelum penyerbuan Fatahilah ke Sunda Kelapa.

Keenam pada http://id.wikipedia.org/wiki/Sindangheula,_Banjarharjo,_Brebes tertulis
Mengapa dinamakan Sindangheula? Hal ini berkaitan dengan ketika suatu waktu dua orang Pangeran (orang keramat) bernama Pangeran Papak dan Pangeran Panjunan sindang (singgah; mampir) heula (beberapa saat) di suatu tempat di selatan desa (yang dinamakan Tabet) dan melakukan sembahyang di sana. Bekas sembahyangnya berbekas telapak kaki. Keduanya beristirahat ketika akan dan atau telah pergi dari tempat keramat Gunung Kumbang.

Ketujuh pada http://id.wikipedia.org/wiki/Tanjung_Barat,_Jagakarsa,_Jakarta_Selatan (tulisan ini pun menyebut nama Ridwan Saidi) tertulis
Tidak diketahui kapan tepatnya Islam masuk ke kerajaan ini tetapi menurut kajian budayawan Betawi Ridwan Saidi hal ini bisa dirunut dari berdirinya Pesantren Syekh Quro atau Syekh Hasanuddin di Karawang pada tahun 1418. Syekh Quro adalah seorang pendakwah asal Kamboja yang pengaruhnya terasa hingga ke keraton Tanjung Jaya sehingga banyak pembesar-pembesar keraton yang masuk Islam. Saat dipimpin Ratu Kiranawati, agama Islam sudah berkembang pesat. Hal ini berbeda dengan di kerajaan Sunda dimana pengaruh Hindu di keraton masih sangat kuat.

Selain dikenal sebagai seorang muslimah yang taat, Ratu Kiranawati juga terkenal dengan kecantikan wajahnya sehingga oleh rakyatnya dijuluki dengan Ratu Kebagusan. Ratu Kiranawati wafat dan dimakamkan di daerah Ratu Jaya Depok. Pada masa pemerintahan Ratu Kiranawati, salah satu Adipati Kerajaan yang bernama Pangeran Papak menjadi salah satu dari Tujuh Wali Betawi. Ke-tujuh wali Betawi adalah: Syekh Quro, Pangeran Cakrabuana (Kian Santang), Pangeran Darma Kumala, Kumpi Datuk, Habib Sawangan, Pangeran Papak dan Ki Aling [2]. Ketujuh 'wali Betawi' ini, hidup sebelum penyerbuan Fatahillah ke Sunda Kelapa.


ANALISIS DARI SUMBER INTERNET

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Pak Ridwan Saidi, sepertinya pendapat dan atau tulisan beliau sendiri saling bertolak belakang.

Pada sumber pertama, disebutkan bahwa Pangeran Papak adalah sisa pasukan Pajajaran yang masih berjuang secara gerilya melawan Fatahilah. Dan makamnya terdapat di tiga kota berbeda.

Pada sumber kedua, disebutkan bahwa Pangeran Papak adalah penyebar agama Islam di Garut, bernama R Wangsa Muhammad. Ini sudah bertolak belakang.

Pada sumber ketiga, dijelaskan bahwa Pangeran Papak bernama Raden Djajadiwangsa putra dari Raden Wangsa Muhammad. Sedangkan pada sumber kedua, Pangeran Papak adalah Raden Wangsa Muhammad sendiri.
Pangeran Papak versi sumber ketiga, disebutkan pada tahun 1910 menciptakan kesenian "Surak Ibra". Mungkin angka tahunnya salah mencatat. Karena
Sekitar tahun 1956, Sudiro, Walikota Jakarta saat itu, menetapkan tanggal 22 Juni 1527 sebagai tanggal kelahiran Kota Jakarta. Saat pasukan yang dipimpin Fatahillah berhasil menumbangkan kekuatan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa sendiri dibumihanguskan. Tentara dan penduduk Kerajaan Sunda, melarikan diri ke ibukota Dayeuh Pakuwuan Pajajaran (di sekitar Bogor). Syahbandar dan para pengawalnya yang nekad bertahan, gugur dalam pertempuran.
(Ronggeng Bugis)

Pada sumber keempat, Pangeran Papak adalah cicit Raja Sangara (atau lebih dikenal sebagai Kian Santang). (Baca juga Kian Santang)

Pada sumber kelima, Pangeran Papak adalah salah satu murid Kian Santang. Ratunya adalah Ratu Kirana. Jika Ratu Kirana ini kekuasaannya sampai muara, kemungkinan adalah daerah Mauk, artinya membawahi Keadipatian Tamgara(Tangerang). Sedangkan Tamgara, berhasil dibujuk oleh Sultan Hasanuddin Banten menyerahkan kekuasaan. (Baca juga Ronggeng Bugis). Jadi bertolak belakang dengan sumber pertama, tulisan Ridwan Saidi, yang menyebutkan bahwa
Mungkin Anda tidak mengetahui siapa sebenarnya Pangeran Papak. Pangeran Papak ini adalah salah satu menak Pajajaran pasca Prabu Siliwangi yang tidak mundur ke Garut. Sedangkan lainnya mundur ke Garut.

Masih pada sumber kelima, Ridwan Saidi menyebutkan bahwa Pangeran Papak adalah salah satu dari Tujuh Wali Betawi. Artinya Ridwan Saidi menyangkal sendiri tulisannya pada sumber pertama.

Pada sumber keenam, Pangeran Papak dan Pangeran Panjunan, hidup pada masa yang sama, dan mampir ke daerah Sindangheula, Banjarharjo, Brebes. Pangeran Papak yang mana?

Pada sumber ketujuh, Pangeran Papak yang dimaksud adalah Adipati Tanjung Jaya. Pangeran Papak ini juga salah satu dari Tujuh Wali Betawi. Dan Tujuh Wali Betawi ini sudah ada sebelum penyerbuan Fatahillah ke sunda Kelapa. Artinya berbeda sosok dengan Pangeran Papak yang bergerilya melawan Fatahillah.

Tujuh Wali Betawi (menurut sumber ketujuh)
1. Syekh Quro, kakek R Walangsungsang dari garis ibu
2. Pangeran Cakrabuana, nama lain R Walangsungsang
3. Pangeran Darma Kumala
4. Kumpi Datuk
5. Habib Sawangan
6. Pangeran Papak
7. Ki Aling
Tapi, apakah dewan Tujuh Wali Betawi ini hidup dalam masa yang sama? Masih perlu kita kritisi lagi.

KESIMPULAN

Ada beberapa sosok dengan nama Pangeran Papak. Pangeran Papak yang dimaksud pada Makam Keramat Pedongkelan, adalah Adipati Tanjung Jaya. Beliau adalah salah satu dari Tujuh Wali Betawi.

Wallahu 'alam bishawab

Bersambung ke Jejak Pangeran Papak


=====

Keramat Pedongkelan

=====

3 komentar:

  1. Dari berbagai sumber itu, kelihatannya Pangeran Papak itu bukan orang yang sama ya, Mas? Atau orang yang sama namun karena nenek moyang kita menulis sejarah lewat tutur, yang bisa diedit sesuai situasi dan kondisi, cerita tentang satu orang berbagai versi deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau secara logika. kemungkinan bukan sosok yang sama. Kan, ga mungkin ada di berbagai tempat dengan jangka waktu yang berbeda.
      Tapi mengingat bahwa sosok ini adalah sosok Karomah (Keramat), ya kemungkinan itu bisa saja terjadi.
      Saya sendiri, ga tahu persisnya, mbak.
      Kata orang-orang tua, Hanya Wali yang tahu Wali.

      Hapus
  2. Have you been interested to ways to accrue global recognition quickly? You only will need to Buy Facebook Followers to become well known on world-wide-web. buy followers for facebook

    BalasHapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.