Ronggeng Bugis | Khasanah Seni Budaya Cirebon

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Ronggeng Bugis | Khasanah Seni Budaya Cirebon

Tak banyak yang tahu bahwa Ronggeng Bugis adalah elemen penting dalam sejarah kelahiran Kota Jakarta. Sekalipun bernama Ronggeng Bugis, dan menjadi kunci sejarah Kota Jakarta, tapi baik orang Jakarta maupun orang Bugis tak banyak tahu tentang Seni Budaya yang satu ini.
---
(Di Balik Sejarah Kelahiran Kota Jakarta)
Khasanah Seni Budaya Cirebon

Ronggeng Bugis



Foto diunduh dari http://www.pikiran-rakyat.com/ffarm/www/imagecache/625x350/ffarm/www/2012/11/15/1511kirab-cerbon.jpg.
pada berita Kirab Budaya, Puncak Perayaan Hari Jadi Kota Cirebon


Tak banyak yang tahu bahwa Ronggeng Bugis adalah elemen penting dalam sejarah kelahiran Kota Jakarta. Sekalipun bernama Ronggeng Bugis, dan menjadi kunci sejarah Kota Jakarta, tapi baik orang Jakarta maupun orang Bugis tak banyak tahu tentang Seni Budaya yang satu ini.

Berkaitan langsung dengan tokoh Fatahillah (Faletehan atau Fadhillah Khan), sebagai bagian dari pasukan telik sandi, Ronggeng Bugis lebih melekat sebagai bagian dari budaya Cirebon. Namun demikian, jenis seni budaya yang satu ini, sepertinya memang sudah hampir punah. Jika bukan karena ada Kirab Budaya (Perayaan HUT Cirebon), tentulah banyak orang (Cirebon sendiri, bahkan) yang tak tahu jua akan hal ini.

Sekitar tahun 1956, Sudiro, Walikota Jakarta saat itu, menetapkan tanggal 22 Juni 1527 sebagai tanggal kelahiran Kota Jakarta. Saat pasukan yang dipimpin Fatahillah berhasil menumbangkan kekuatan Portugis di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan Sunda Kelapa sendiri dibumihanguskan. Tentara dan penduduk Kerajaan Sunda, melarikan diri ke ibukota Dayeuh Pakuwuan Pajajaran (di sekitar Bogor). Syahbandar dan para pengawalnya yang nekad bertahan, gugur dalam pertempuran.

Bagi Kerajaan Sunda, tanggal itu merupakan tragedi. Tapi bagi pasukan yang dipimpin oleh Fatahillah, merupakan kemenangan besar. Bahkan, di bekas Pelabuhan Sunda Kelapa itu, didirikan Jayakarta yang berarti Kota Kemenangan.

Kekerasan vertikal dan horisantal berupa intrik politik dari kalangan atas, dan pertikaian etnis sampai ke tingkat bawah, mewarnai perkembangan kota Jayakarta, hingga menjadi Jakarta yang kita kenal sekarang.

Lembar sejarah kita mulai dari jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Malaka adalah symbol kekuatan Islam Nusantara. Kekuatan Islam Nusantara kini bergeser ke Samodera Pase dan Peureulak di Aceh. Tapi tetap saja ada intrik politik yang mewarnai Samudera Pase dan Peureulak. Namun di bawah bendera Islam, kedua kesultanan itu membangun kekuatan dengan Kerajaan atau Kesultanan lain di Nusantara. Maka terbentuklah pasukan spionase (telik sandi) Busur Laut Nusantara yang terbentang dari Peureulak dan Samudera Pase sampai Ternate dan Tidore.

Busur Laut Nusantara memiliki persembunyian di gunung-gunung. Nama-nama gunung akhirnya menjadi kode bagi penamaan pasukan mariner ini. Orang awam hanya tahu bahwa Busur Laut Nusantara memang hanya merupakan deretan gunung berapi yang menjadi bagian dari sabuk Mediterania ke arah kepulauan Maluku.

Seorang Panglima Laut dari Samudera Pase, bernama Fadhillah Khan, bersembunyi (atau disembunyikan) di Kerajaan Demak Bintara. Dalam persembunyian di Demak, Fadhillah Khan dikenal sebagai ustadz atau guru ngaji dengan panggilan Wong Agung atau Wong Agung Pase atau Wong Agung Demak.

Kerajaan Demak Bintara telah dirancang sebagai pusat kekuasaan Islam di tanah Jawa. Sekalipun demikian, terhadap Cirebon tidak serta merta menganggap kerajaan bawahan. Hal ini karena menghormati Syarif Hiyatullah (Sunan Gunung Jati) yang memiliki kedekatan dengan Sunan Ampel dan para wali lainnya. Untuk menjembatani hal ini, dikirimlah Fadhillah Khan ke Cirebon. Dan Kelak menjadi menantu Sunan Gunung Jati, bahkan mewarisi namanya menjadi Sunan Gunung Jati ke-2. (Dalam versi lain dikatakan bahwa Fadhillah Khan atau Fatahillah memang penjelmaan dari Sunan Gunung Jati sendiri.)

Di Jawa Barat, pengaruh Islam dari Sunan Gunung Jati makin menguat. Seiring dengan itu, kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran mengalami kemunduran, karena intrik di antara para penerus, setelah menghilangnya Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) ke pertapaan. Dilanjutkan oleh Prabu Parameswara bergelar Sri Sang Ratu Dewata yang menyandang nama Siliwangi juga. Prabu Parameswara memindahkan pusat pemerintahan ke Dayeuh Pakuwuan di sekitar Bogor, karena merasa kekuasaannya akan terancam oleh Sunan Gunung Jati dengan keberadaan Kesultanan Cirebon nya. (Versi lain mengatakan bahwa Prabu Parameswara adalah juga Sri Baduga Maharaja, yaitu Prabu Siliwangi.)

Di Banten, sudah ada dua kerajaan bawahan Pajaran, yaitu Kadipaten Banten Pesesir dan Kadipaten Banten Girang. Banten Girang dipimpin oleh Adipati Suranggana. Banten Pesisir dipimpin oleh Adipati Surosowan. Keduanya adalah putra Prabu Siliwangi dari perkawinannya dengan Dewi Mayang Sunda.

Sebelum memimpin Kesultanan Cirebon, Syarif Hidayatullah pernah menyebarkan agama Islam di kedua Kadipaten ini. Adipati Surosowan tertarik oleh ajaran Syarif Hidayatullah dan akhirnya memeluk agama Islam. Putrinya, yang bernama Kawunganten, dinikahkan dengan Syarif Hidayatullah. Sejak saat itu Kadipaten Banten Pesisir dikenal pula dengan nama Keraton Kawunganten. Kemudian dari pernikahan antara Syarif Hidayatullah dengan Kawunganten, lahirlah Pangeran Sabakingkin yang mewarisi Keraton Kawunganten atau Banten Pesisir.

Sabakingkin, berhasil ‘membujuk’ kakek-pamannya, Suranggana, untuk menyerahkan kekuasaannya. Banten Girang dan Banten Pesisir disatukan dibawah kepemimpinan Sabakingkin yang kemudian bergelar Maulana Hasanuddin. Suranggana pun menghilang ke pertapaan. Aparat kerajaannya yang tidak ingin memeluk Islam, pun ‘menyendiri’ yang kemudian dikenal sebagai masyarakat Baduy.

Seluruh pusaka dan simbol kekuasaan Banten Girang dipindahkan ke Ibukota Kawunganten atau Banten Surosowan. Didirikanlah kota pesisir yang menjadi salah satu basis kekuatan Busur Laut Nusantara (sandi Krakatau), dengan pelabuhan yang megah.

Agak ke wilayah selatan, Syarif Hidayatullah pun telah mengajarkan agama Islam dan berkembang dengan pesat. Dengan kondisi ini, Prabu Parameswara merasa kekuasaanya telah terjepit oleh pengaruh Islam yang disebarkan Syarif Hidayatullah. Maka untuk memperkuat Pajajaran secara kekuatan militer, dibuatlah perjanjian kerja sama militer dengan pihak Portugis di Malaka. Di wilayah kebudayaan, membangkitkan kembali sastra sunda yang kental dengan ajaran Hindu, pada setiap perayaan apapun.

Pasukan Portugis segera disiapkan untuk membangun benteng pertahanan di Pelabuhan Sunda Kelapa. Telik Sandi Busur Laut Nusantara pun mencium rencana pemberangkatan ini. Maka berkoordinasilah segenap kekuatan dari seluruh Nusantara, utamanya yang di wilayah Jawa, yaitu Demak, Cirebon dan Banten.

Tapi anehnya, pasukan keraton Demak, Cirebon dan Banten yang biasa berlatih perang darat, dipersiapkan sebagai pasukan laut dan marinir. Sementara pasukan hantu laut Bugis, dipersiapkan sebagai telik sandi darat. Dari arah Banten, Hasanuddin ‘membujuk’ kota-kota pelabuhan seperti Pontang, Cigede, Tamgara dan akhirnya Cimanuk, untuk menyerahkan kekuasaan kepadanya. Dari Cirebon, sejumlah petinggi keraton seperti Pangeran Cherbon, Adi Patih Keling dan Patih Cangkuang, membawa pasukan Cirebon dan pasukan bantuan dari Demak, lewat laut dan bersembunyi di Kepulauan Seribu. Fatahillah sendiri (selaku mantan Panglima Laut Malaka), membawa santri-santrinya, baik dari Demak maupun dari Cirebon, sebagai pasukan darat. Para santri ini sebenarnya belum pernah dididik secara militer, tapi semangat mereka sangat tinggi untuk berjihad.

Agar gerak pasukan Fatahillah, yang melalui darat, tidak tercium oleh Pajajaran, haruslah melalui wilayah-wilayah islam atau Adipati yang tidak mendukung Pajajaran. Di sinilah tugas hantu laut Bugis yang menjadi telik sandi dan menyamar sebagai penari ronggeng.

Dari Cirebon, rombongan Ronggeng Bugis bergerak ke arah Pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai Ronggeng Banci yang memancing gelak tawa, tidak ada yang curiga kalau mereka adalah telik sandi. Salah satu dari mereka selalu ada yang bolak balik ke arah Fatahillah untuk memberitahukan titik-titik mana yang aman untuk bergerak dan bersembunyi.

Fatahillah berhasil dengan selamat di persembunyian dekat Pelabuhan Sunda Kelapa. Sementara telik sandi Ronggeng Bugis telah bersiap kembali ke Cirebon.

Berikutnya, kita tahu bahwa Portugis kalah karena terkepung pasukan darat Fatahillah, pasukan marinir Hasanuddin dan pasukan laut Keling dkk. Pasukan Fatahillah bernama sandi Pangeran Jayakarta 1. Pasukan marinir Hasanuddin, sandi Pangeran Jayakarta 2. Pasukan Keling dkk, sandi Pangeran Jayakarta 3. Adapun telik sandi hantu laut Bugis, tetap dikenang dengan nama Ronggeng Bugis, Ronggeng Banci atau Ronggeng Telik Sandi, tanpa ada yang tahu siapa pemimpin pasukan telik sandi ini.

Di Cirebon, Ronggeng Bugis tetap dipertahankan keberadaanya. Tapi seiring perkembangan zaman, Ronggeng Bugis semakin terlupakan. Semoga masih ada generasi muda berikutnya yang melestarikan seni budaya Ronggeng Bugis ini. Agar tetap terjaga cerita, siapa di balik keberhasilan Fatahillah menduduki Sunda Kelapa, dan menjadikannya Jayakarta.



Lompat ke:
- "Sintren"
- "Bokor Kuningan"
- "Arya Kemuning (Pangeran Arya Adipati Kuningan)"

=====

Ronggeng Bugis

=====
Baca juga:
- "Jadi, Grage Itu Apanya Cirebon?"

4 komentar:

  1. cerita yang keren! serasa nonton film kolosalnya hollywood.

    BalasHapus
  2. Makasih, gan. Mungkin berniat menyutradarai film ini?

    BalasHapus
  3. maap tolong izin copas ya gan.,buat tugas.!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan. Semoga masih bisa diceritakan sampai ke anak cucu.

      Hapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.