Sintren (4)

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Sintren (4)

Juru bicara rombongan Sintren, memberi aba-aba kepada para penonton, untuk memulai prosesi balangan. Saya tertawa saat melihat sang Sintren terkulai ketika terkena balangan uang receh di tubuhnya. Sang pawang kembali melemparkan asap dupa ke wajah Sintren. Sintren kembali menari, dan kembali terkulai terkena balangan uang receh. Setiap sang Sintren terkulai, sang pawang melemparkan asap dupa ke wajah Sintren, dan Sintren pun kembali menari.
---

Sambungan dari "Sintren (3)"

Pangeran Jayakarta

Simpang Siur Nama Pangeran Jayakarta



Foto diunduh dari
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/c/c9/Seni_Sintren.jpg
 pada Sintren menurut Wikipedia
(http://id.wikipedia.org/wiki/Sintren)
Sintren sebagai sitiran tokoh Pangeran Jayakarta yang lolos dari pengepungan atau penyergapan Belanda. Lalu siapa Pangeran Jayakarta itu?
Sebagian besar versi mengatakan bahwa Pangeran Jayakarta adalah anak dari Ratu Bagus (Tubagus) Angke hasil pernikahan dengan anak Fatahillah.

Wikipedia sendiri mengatakan:
Asal-usul Pangeran Jayakarta masih samar. Dalam situs internet Pemerintah Jakarta Timur disebutkan, Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari [Pangeran] Achmad Jakerta, putra [Pangeran] Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten. Namun ada juga yang menganggap Pangeran Jayakarta adalah [Pangeran] Jayawikarta. Menurut Hikayat Hasanuddin dan Sajarah Banten Rante-rante, disusun pada abad ke-17 (yaitu sesudah Sajarah Banten, 1662/3), Pangeran Jayakarta atau Jayawikarta adalah putra Tubagus Angke dan Ratu Pembayun, puteri Hasanuddin, anak Sunan Gunung Jati.
Menurut Adolf Heukeun SJ dalam buku Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid II, silsilah ini tidak sesuai dengan sumber-sumber sekunder lain karena sumber-sumber yang digunakan oleh hikayat mengandung banyak cerita dongeng.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Jayakarta)

Sebenarnya nilai ulangan Pelajaran Sejarah saya saat SMP jeblok, ketika bahasan yang ini (maupun bahasan yang lain). Boleh di-kroscek ke Bu Lulu Mamluah (Guru Sejarah, Ekonomi dan Sosial saat saya di kelas 1E SMP N 1 Cirebon). Beruntung saat saya kelas 1 dan 2 SMAN 52 Jakarta, saya mendapatkan Guru Sejarah Bu Natasha (yang potongan rambutnya selalu pendek). Bu Natasha tidak pernah menyuruh kami menghafal angka tahun. Yang penting, mengerti proses yang terjadi saat itu, dan gunakan logika untuk mengukur kebenarannya.

Versi Umum: Pangeran Jayakarta adalah anak dari Tubagus Angke, hasil pernikahan dengan anak Fatahillah.
Tapi banyak yang menyebutkan bahwa Tubagus Angke adalah bangsawan Banten yaitu tidak lain adalah Sultan Hasanuddin sendiri. Coba perhatikan, Sultan Hasanuddin (Sabakingkin) adalah anak Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah, sebelum memerintah Cirebon), dan Fatahillah adalah menantu Gunung Jati (setelah memerintah Cirebon), maka saya menganggap tidak mungkin Sultan Hasanuddin sebagai uwa (atau pakde), menikahi ponakan tirinya, usianya terpaut jauh.

Versi 1 Wikipedia: Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari Achmad Jakerta, putra Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten.
Versi 2 Wikipedia: Pangeran Jayakarta adalah Jayawikarta.
Versi 3 Wikipedia: Pangeran Jayakarta atau Jayawikarta adalah putra Tubagus Angke dan Ratu Pembayun, puteri Hasanuddin, anak Sunan Gunung Jati.
Pada versi 1  Pangeran Jayakarta, dapat kita temukan buktinya berupa makam Pangeran Jayakarta di Jalan Jatinegara Kaum. Versi 2 Pangeran Jayakarta, adalah ayah dari versi 1, makamnya di Banten. Versi 3 Pangeran Jayakarta, hanya berupa tambahan info tentang Versi 2 Pangeran Jayakarta. Maka semua versi masuk logika.
Achmad Jakerta adalah putra dari Sungresa Jayawikarta (atau Sungresa Wijayakarta). Sungresa Jayawikarta adalah putera dari Tubagus Angke (hasil pernikahan dengan putri Sultan Hasanuddin Banten, bernama Ratu Pembayun). Dengan logika ini, artinya baik Achmad Jakerta maupun Sungresa adalah pewaris nama Pangeran Jayakarta. Sementara keturunan Tubagus angke dari garis putri Fatahillah tidak mewarisi nama Pangeran Jayakarta.
Karena Tubagus Angke menikahi Ratu Pembayun (putri Sultan Hasanuddin), maka tidak mungkin kalau Tubagus Angke adalah juga Sultan Hasanuddin.

Lalu siapa Tubagus Angke, ini?
Di sinilah kita kembali menengok legenda, hikayat dan dongeng.
Terdapat kerajaan lokal yg bernama Tanjung Jaya dengan Rajanya Sangketi atau Uwa Item atau Batara Katong yg memerintah di sekitar Muara Angke, Tanjung Jaya. Ini adalah Kerajaan yg tergabung pd Pajajaran. Dikisahkan Uwa Item ini tewas ketika perang melawan Jayakarta dan dalam naskah itu lebih menyinggung ttg Jaya Karta yg merebut Sunda Kalapa.
Logika yang benar, Uwa Item tewas ketika perang melawan pasukan sandi Pangeran Jayakarta, dialah syah bandar Sunda Kelapa yang nekad bertahan dengan para pengawalnya.

Tubagus Angke adalah nama gelar dari Banten. Tapi siapa orangnya? Pada tutur lain, disebutkan namanya adalah Ki Gedeng Angke, nama lain dari Pangeran Jaya bin Pangeran Panjunan.

Nah, ketahuan. Berikutnya tinggal kita lihat siapa saja yang dimakamkan di Jatinegara Kaum.

Maka urut-urutan penyandang nama Pangeran Jayakarta adalah:
1. Pangeran Jayakarta sebagai pasukan sandi yang menyerang Sunda Kelapa.
2. Pangeran Jayakarta I, Fatahillah.
3. Pangeran Jayakarta II, Tubagus Angke AKA Ki Gedeng Angke AKA Pangeran Jaya bin Pangeran Panjunan.
4. Pangeran Jayakarta III, Sungresa Jayawikarta AKA Sungresa Wijayakarta.
5. Pangeran Jayakarta IV, Achmad Jakerta.
6. Pangeran Jayakarta V, Padmanegara.
7. Pangeran Jayakarta VI, Lahut.


Bersambung ke "Sintren (5)"


Sintren : < 1 2 3 4 5 >

=====

Pangeran Jayakarta

=====

1 komentar:

  1. Nama Tubagus Angke hanyalah Gelar, nama asli beliau serupa dengan Raja Banten yaitu Syech Hasanudin Bin Syech Abdurahman (Pangeran Panjunan) Bin Syech Datuk Kahfi / Syech idhofi Mahdi / Syech NURJATI.
    Tubagus Angke atau Syech Hasanudin ini mempunyai Ibu yang bernama Ratu Ayu Pembayun Fatimah yaitu Putri dari FATAHILAH atau Fadhilahkhan / Faletehan (pangeran Jayakarta I)

    BalasHapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.