Sintren (5)

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Sintren (5)

Lain tempat, alin pula akar katanya. Ada yang mengartikan Sintren sebagai santrian (kalangan pesantren), sintru (angker), si-tri (si putri), dan lain sebagainya.
---Sambungan dari "Sintren (4)"

Sintren
Khasanah Seni Budaya Cirebon

(Bagian 5 - Habis)


Siapa Pemilik Seni Budaya Sintren?



Foto diunduh dari
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/c/c9/Seni_Sintren.jpg
pada Sintren menurut Wikipedia
(http://id.wikipedia.org/wiki/Sintren)

Bertemunya kembali Rantamsari dengan Bahureksa menimbulkan keharuan. Sejak saat itu, setiap acara bersih desa diadakan pertunjukan Sintren.

Saat anak mereka, Raden Sulandono, beranjak dewasa memadu kasih dengan Sulasih (dari Desa Kalisalak). Tapi Bahureksa (saat itu memakai nama Ki Joko Bahu) tidak merestui.

Rantamsari memerintahkan anaknya untuk bertapa sambil membawa sapu tangan. Sapu tangan inilah yang pernah dibawa Rantamsari ketika menyamar sebagai penari ronggeng. Kepada Sulasih, Rantamsari memerintahkan agar menjadi penari Sintren, pada setiap acara bersih desa berikutnya.

Maka setiap Sulasih menjadi penari Sintren, raganya ‘dipinjam’ oleh Dewi Lanjar. Sementara itu jiwanya mencari jiwa Raden Sulandono yang tengah bertapa. Pertemuan mereka di ‘Alam Jiwa’ menjadi pertanda saat usainya bertapa.

Pada acara bersih desa berikutnya, Raden Sulandono diam-diam hadir di tengah rakyat yang menonton pertunjukan demi pertunjukan. Sampai saatnya pertunjukan Sulasih menjadi penari Sintren. Saat Sulasih trance inilah, Raden Sulandono melemparkan sapu tangan pemberian ibunya. Sulasih lunglai terkena balangan sapu tangan itu. Tapi sang pawang tak bisa membuat Sulasih bangkit menari lagi, dan dibawa ke luar arena pertunjukan. Para penonton saling ribut satu sama lain. Saat itulah Raden Sulandono berhasil membawa kabur Sulasih.

Selama pelarian, Raden Sulandono dan Sulasih menikah dan membentuk rombongan tari Sintren. Sulasih sudah tidak lagi sebagai penari. Tapi, Raden Sulandono selalu bertindak sebagai pawang. Di berbagai tempat yang mereka singgahi, mereka membentuk rombongan tari Sintren yang baru.

Maka, di hampir seluruh kota di pantura jawa, pasti mengenal Sintren.

Jadi menurut saya, kota manapun boleh merasa memiliki, mengembangkan dan melestarikan seni budaya yang satu ini. Apapun versi sejarah yang mereka punya, itu sah-sah saja.



Penutup


Sintren sebagai sitiran Fatahillah yang lolos dari fitnah di Malaka, akan saya posting dalam kesempatan lain.

Lain tempat, alin pula akar katanya. Ada yang mengartikan Sintren sebagai santrian (kalangan pesantren), sintru (angker), si-tri (si putri), dan lain sebagainya.

Alat musik yang dipakai pun tidak ada pakem keseragaman. Tapi tembangnya cenderung sama atau mirip. Tembang pembuka bisa macam-macam (campur sari). Tembang selama pertunjukan adalah mantra. Tembang penutup adalah Turun Sintren Penutup.

Pernah suatu ketika, Andre Hehanusa membawakan lagu ‘Bidadari’. Saya selalu membelokkan ke tembang Turun Sintren.

Bidadari...
Bidadari...
sintrene widodari
Nemu kembang ning ayun ayunan
kembange siti Mahendra
Widodari temurunan


Bagi teman segenerasi yang mengenal sintren, pasti tertawa mendengar nyanyian saya.
Di bawah ini adalah syair tembang ‘Turun Sintren’ yang sering saya dengar.

Turun Sintren Pembuka (Mantra memanggil roh atau bidadari untuk masuk ke raga Sintren)
Turun-turun sintren
sintrene widadari
Nemu kembang ning ayun ayunan
kembange siti Mahendra
widodari temurunan naranjing ka awak sira


Turun Sintren Penutup (Mantra mengeluarkan roh atau bidadari dari raga Sintren)
Turun-turun sintren, sintrene widodari
Nemu kembang yun-ayunan
Nemu kembang yun-ayunan
Kembang si jaya indra
Widodari temurunan
Kang manjing ning awak ira
Turun-turun sintren
Sintrene widodari
Nemu kembang yun-ayunan
Nemu kembang yun-ayunan
Kembang si jaya indra
Widodari temurunan

kembang kates gandul
pinggire kembang kenanga
kembang kates gandul
pinggirekembang kenanga
arep ngalor arep ngidul
wis mana gageya lunga

kembang kenanga
pinggire kembang melati
kembang kenanga
pinggire kembang melati
wis mana gagea lunga
aja gawe lara ati

kembang jahe laos
lempuyang kembange kuning
kembang jahe laos
lempuyang kembange kuning
ari balik gage elos
sukiki maneya maning

kembang kilaras
di tandur tengae ngalas
kembang kilaras
di tandur tengae ngalas
paman bibi aja maras
dalang sintren jaluk waras



(Habis)
Lompat ke :
- "Sintren [Behind The Screen]"
- "Nyi Mas Gandasari"
- "Bokor Kuningan"


Sintren : < 1 2 3 4 5

=====

Sintren

=====
Baca juga:
- "Ronggeng Bugis"

2 komentar:

  1. "ini udah bukan mendorong atau menarik lagi. ini ngegubrakin!!!"

    membuat suatu tulisan sejarah sebetulnya tidak sulit di jaman ini. mbah Google menyediakan bahan baku apa pun yang kita inginkan sepanjang kita tahu bagaimana cara memintanya. tetapi merajutnya menjadi suatu tulisan yang mengalir dan menarik seperti tulisan ini butuh kemampuan lebih dari sekedar tukang jahit. barangkali penulis ini bisa dipadankan dengan perancang busana yang menguasai karakter bahan, filosofi desain, dan ketrampilan menjahit seorang empu.

    tulisan ini menjadi hidup karena ditingkah dengan pengalaman masa kecil yang lucu. kenakalan penulis dengan menautkan link ke akun facebook guru SMPnya sangat menyegarkan.

    dibandingkan dengan tulisan sebelumnya mengenai Ronggeng Bugis -yang juga bagus, tulisan ini lebih kaya dan padat dengan data. analisis yang dikemukakan penulis -meski masih terbuka untuk diperdebatkan- menunjukkan bahwa ia makin percaya diri dalam tulisan ini.

    secara keseluruhan, saya seperti menonton film Discovery Channel gaya Bollywood (ya. India. bukan Hollywood) dengan pembabakan dan panjangnya tulisan namun tetap mampu mengikat pembaca dengan kejutan-kejutan di tiap babak.

    tentu saja "Sempurna" adalah milik Andra and the Backbone, karena tulisan ini masih banyak "typo" alias kesalahan ketik. penulis juga agaknya luput menjelaskan siapa Dewi Lanjar. namun saya belum pernah membaca tulisan yang sekomprehensif dan mengalir serta pembabakan seperti ini. mudah-mudahan saya tidak patah semangat untuk menulis setelah membaca tulisan ini.

    tabik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih atas komennya, saya sangat terharu. Soal Typo, saya mohon maaf, padahal sudah saya coba periksa secermat mungkin. Tentang Dewi Lanjar, hanya sekilas saya tulis di bawah sub judul "Di Balik Nama Betawi", paragraf 17, kalimat terakhir, "... Bahureksa sendirilah yang babad alas di tempat ini, yang ketika tapa brata sempat diganggu oleh Dewi Lanjar."
      Mohon terus memberi masukan pada postingan-postingan berikutnya. Makasih.

      Hapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.