Arya Wiralodra

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Arya Wiralodra

“Hai Arya Wiralodara, apabila engkau ingin berbahagia beserta keturunanmu kelak di kemudian hari, pergilah engkau ke arah matahari tenggelam. Dan carilah sungai Cimanuk. Manakala engkau telah tiba di sana berhentilah dan tebanglah hutan belukar secukupnya untuk sebuah pedukuhan dan menetaplah di sana”
---

Babad Alas Kali Cimanuk
Asal Mula Kabupaten Indramayu


Arya Wiralodra



Gambar diunduh dari http://legendawiralodra.blogspot.com/2012/01/sinopsis.html

Dalam legenda, babad, hikayat, dongeng dan cerita turun-temurun masyarakat Indramayu, pasti mengenal tokoh yang bernama [Raden] Arya Wiralodra. Arya Wiralodra konon berasal dari Bagelen, Jawa Tengah. Ayahnya adalah Tumenggung Dalem bernama Gagak Singalodra. Ibunya adalah Nyi Ageng Bagelen (putri Ki Gede Bagelen).

Sejak kecil Arya Wiralodra bercita-cita membangun suatu Negara untuk diwariskan kelak pada cucu-cucunya. Beranjak dewasa, cita-citanya makin mantap, hingga pada suatu masa Arya Wiralodra menjalankan tapa brata dan semedi di perbukitan melaya di kaki gunung Sumbing. Hari demi hari berlalu. Setelah tiga tahun barulah Arya Wiralodra mendapat wangsit.

“Hai Arya Wiralodara, apabila engkau ingin berbahagia beserta keturunanmu kelak di kemudian hari, pergilah engkau ke arah matahari tenggelam. Dan carilah sungai Cimanuk. Manakala engkau telah tiba di sana berhentilah dan tebanglah hutan belukar secukupnya untuk sebuah pedukuhan dan menetaplah di sana”

Berbekal wangsit tersebut, Arya Wiralodra berangkat didampingi abdinya Ki Tinggil. Mereka berjalan ke arah barat untuk mencari sungai Cimanuk. Suatu senja sampailah Arya Wiralodra dan Ki Tinggil di sebuah sungai yang amat besar. Arya Wiralodra mengira sungai itu adalah Cimanuk maka bermalamlah di situ.

Ketika fajar menyingsing, Arya Wiralodra dan Ki Tinggil terbangun oleh kehadiran seseorang. Orang tua itu menegur dan menanyakan tujuan mereka. Arya Wiralodra menjelaskan maksud dan tujuan perjalanan mereka.

Orang tua itu berkata “Hai cucuku, tuan telah tersesat, sungai ini bukan Cimanuk yang tuan cari, adapun Sungai Cimanuk telah terlewat yaitu terletak di sebelah timur, berjalanlah ke arah timur laut''

Setelah berkata demikian, orang tua tersebut lenyap. Konon, orang tua itu menurut riwayat adalah Ki Buyut Sidum, Kidang Penanjung dari Pajajaran. Ki Sidum adalah seorang panakawan tumenggung Prabu Sri Baduga (atau Prabu Siliwangi).

Arya Wiralodra dan Ki Tinggil melanjutkan perjalanan berbalik arah menuju timur laut. Setelah berhari-hari berjalan, akhirnya Arya Wiralodra melihat sungai besar. Mereka berhenti. Arya Wiralodra berharap sungai tersebut adalah Cimanuk.

Tiba-tiba dia melihat kebun yang indah namun pemilik kebun tersebut sangat congkak. Arya Wiralodra naik pitam tak kuasa mengendalikan emosinya. Ketika ia hendak membanting pemilik kebun itu, orang itu lenyap hanya ada suara, “Hai cucuku Wiralodra ketahuilah bahwa hamba adalah Ki Sidum dan sungai ini adalah Sungai Cipunegara, sekarang teruskanlah perjalanan ke arah timur, manakala menjumpai seekor kijang bemata berlian ikutilah. Di mana kijang itu lenyap maka itulah Sungai Cimanuk yang tuan cari. Kelak tuan membabat hutan Cimanuk, bertapalah, jangan tidur. Karena hal itu penting untuk kebahagiaan anak cucu tuan di kemudian hari".

Arya Wiralodra dan Ki Tinggil melanjutkan perjalan kembali ke arah Timur. Bertemulah Arya Wiralodra dan Ki Tinggil dengan seorang perempuan yang mengaku bernama Dewi Larawana atau Dewi Rara Wana yang memaksa untuk dipersunting Arya Wiralodra. Namun karena Arya Wiralodra menolaknya gadis itu marah dan menyerangnya.

Arya Wiralodra mengeluarkan cakranya. Diarahkan cakranya ke Dewi Larawana. Dewi Larawana lenyap barsamaan dengan munculnya seekor kijang. Senjata Cakra milik Arya Wiralodra berbeda nama pada tiap versi cerita. Dan tentunya jenis senjata milik Arya Wiralodra bukan hanya Cakra.

Arya Wiralodra segera mengejar kijang tersebut yang lari ke arah timur. Ketika kijang itu lenyap tampaklah sebuah sungai besar. Karena kelelahan, Arya Wiralodra tertidur dan bermimpi bertemu dengan Ki Sidum yang berkata, “Hai cucuku inilah hutan Cimanuk yang di cari, di sinilah kelak tuan bermukim".

Setelah ada kepastian lewat mimpinya itu Arya Wiralodra dan Ki Tinggil Segera membuat gubug dan membuka ladang. Arya Wiralodra dan Ki Tinggil menetap di sebelah barat ujung Sungai Cimanuk.

Akhirnya tersiarlah ke segenap pelosok bahwa di hutan Cimanuk telah berdiri sebuah pedukuhan. Pedukuhan Cimanuk tersebut makin hari makin banyak penghuninya pendatang terus berdatangan, diantaranya seorang wanita cantik yang membawa bibit- bibitan. Dia adalah Nyi Endang Darma seorang wanita paripurna yang kelak bersama-sama Arya Wiralodra mengembangkan Indramayu.

Karena kemahiran Nyi Endang Darma dalam ilmu kanuragan maka telah mengundang Pangeran Guru dari Palembang. Dia datang ke lembah cimanuk beserta 24 muridnya untuk menantang Nyi Endang Darma. Ternyata semuanya tewas, yang selanjutnya dikuburkan yang sekarang terkenal dengan Makam Selawe.

Dalam satu versi cerita, menyebutkan bahwa Nyi Endang Darma datang bersama 25 orang dari Palembang tersebut. Kemudian terjadi silang pendapat di antara mereka. Nyi Endang Darma dikeroyok tapi berhasil menang melawan 25 orang tersebut.

Pangeran Guru dari Palembang, konon masih keturunan dari sahabatnya Raden Fatah (Raja Kesultanan Demak Bintara). Saat kejadian itu, Arya Wiralodra sedang berkunjung ke orangtuanya di Bagelen. Ki Tinggil datang ke Bagelen untuk melaporkan kejadian tersebut.

Gagak Singalodra yang ikut mendengar laporan itu, merasa malu jika sampai berita ini terdengar oleh pihak Demak Bintara. Maka, Gagak Singalodra menyuruh Arya Wiralodra segera mengeksekusi Nyi Endang Darma.

Versi lain menyebutkan bahwa Nyi Endang Darma adalah penjelmaan Arya Wiralodra sendiri. Setelah kejadian tersebut, Arya Wiralodra segera minta pendapat ayahnya, Gagak Singalodra. Mengetahui kedekatan hubungan Pangeran Guru dengan Raden Fatah, disusunlah scenario sandiwara.

Arya Wiralodra kembali ke wujud Nyi Endang Darma. Sementara kedua adiknya, [Raden] Tanujaya dan [Raden] Tanujiwa, menyamar sebagai Arya Wiralodra dan pendekar Gagak Lumayung. Kemudian seolah-olah Arya Wiralodra memanggil dan minta penjelasan Nyi Endang Darma atas peristiwa pertikaian dengan 25 orang asal Palembang itu.

Nyi Endang Darma dijanjikan akan dinyatakan tak bersalah jika bisa menang secara jujur dalam tanding melawan pendekar Gagak Lumayung. Gagak Lumayung pura-pura kalah. Dan penyamar Arya Wiralodra pura-pura penasaran dan ingin menjajal ilmu juga. Namun sebelumnya, Nyi Endang Darma dinyatakan tidak bersalah dalam peristiwa itu sesuai janji.

Arya Wiralodra yang asli, yang menyamar sebagai Nyi Endang Darma, pura-pura kewalahan melawan adiknya yang menyamar sebagai Arya Wiralodra. Kemudian Arya Wiralodra dalam penyamaran Nyi Endang Darma melarikan diri dan mencebur ke Sungai Cimanuk. Penyamar Arya Wiralodra pura-pura tak bisa mengejar.

Penyamar Arya Wiralodra pura-pura sedih dan memanggil-manggil Nyi Endang Darma dengan teriakan "Darma Ayu!" berulang-ulang. Namun Nyi Endang Darma telah menghilang entah ke mana.

Berikutnya, nama Darma Ayu (Nyi Endang Darma) selalu melekat di Pedukuhan Cimanuk. Bahkan Dukuh Cimanuk, kemudian berganti nama menjadi Darma Ayu atau Derma Ayu atau Dermayu. Belakangan disebut Indramayu, namun kalangan sepuh masih menyebutnya Dermayu atau Derma Ajeng atau Dermajeng. Bahkan pada logo Kabupaten Indramayu, tertera nama "Darma Ayu"


Gambar diunduh dari Wikipedia



Bersambung ke "Pulomas (Kerajaan Siluman di Indramayu)"
===

Arya Wiralodra

===
Baca juga:
- "Nyi Mas Gandasari"
- "Seloka Bagian 6 | Kian Santang"

Tidak ada komentar:

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.