Syarif Syam adalah Syekh Magelung Sakti

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Syarif Syam adalah Syekh Magelung Sakti

Setiap hari, dihabiskannya waktu oleh Syarif Syam untuk mencari waliyullah yang dimaksud, sambil melakukan Suluk-Safar, dakwah bil hal. Rambut panjangnya, bahkan sampai tergerai ke tanah. Maka dalam melakukan perjalanan, Syarif Syam selalu menggelung (melilit dan mengikat seperti sanggul konde) rambutnya layaknya seorang resi. Karenanya, Syarif Syam dikenal pula dengan nama Mama Gelung atau Rama Gelung atau Pangeran Remagelung atau Syekh Magelung.
---
Syarif Syam adalah Syekh Magelung Sakti

Syarif Syam


Menurut dongeng dari Cirebon, pada suatu ketika datanglah seorang pemuda berambut gondrong dan berkeliling ke kota Cirebon. Sejak datang ke tanah Jawa (Pantai utara Cirebon), dikenal sebagai Syarif Syam atau Ibnu Syam (bisa jadi, dia adalah keturunan Samson Sang Perkasa). Konon, beliau lahir di Yaman dan dibesarkan di Syam (Syria/Suriah).

Usut punya usut, Syarif Syam datang di pantai utara Cirebon mencari seorang guru seperti yang pernah ditunjukkan dalam tabirnya, yaitu salah seorang waliyullah di Cirebon, yang sanggup dengan mudahnya memotong rambut panjangnya. Namun ternyata, Syarif Syam tidak serta-merta dapat langsung bertemu dengan orang yang dimaksud.


Pangeran Karangkendal


Dalam perjalanannya, Syarif Syam "terdampar" di Karangkendal, Kapetakan, Cirebon. Di sana, Syarif Syam diangkat anak oleh Ki Tarsiman atau Ki Krayunan atau Ki Gede Karangkendal, bahkan disebut pula dengan julukan Buyut Selawe, karena mempunyai 25 anak dari istrinya bernama Nyi Sekar. Karenanya, Syarif Syam dikenal pula dengan nama Pangeran Karangkendal.


Syekh Magelung


Setiap hari, dihabiskannya waktu oleh Syarif Syam untuk mencari waliyullah yang dimaksud, sambil melakukan Suluk-Safar, dakwah bil hal. Rambut panjangnya, bahkan sampai tergerai ke tanah. Maka dalam melakukan perjalanan, Syarif Syam selalu menggelung (melilit dan mengikat seperti sanggul konde) rambutnya layaknya seorang resi. Karenanya, Syarif Syam dikenal pula dengan nama Mama Gelung atau Rama Gelung atau Pangeran Remagelung atau Syekh Magelung.


Pangeran Soka


Dalam pencariannya, Syarif Syam bertemu seorang nelayan tua yang tengah membawa jala (jaring), di tepi sebuah kali kecil. Terlibat percakapan, Syarif Syam menyatakan maksudnya yaitu mencari Sang Waliyullah dari Cirebon, yang mampu memotong rambutnya. Sang nelayan menyatakan keherannya dan ingin memeriksa rambut Syarif Syam.

Ketika Syarif Syam membelakangi nelayan tua yang tengah menyentuh rambutnya, tak terasa ternyata rambutnya telah terpotong dan jatuh ke tanah. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Karanggetas.

Ketika Syarif Syam hendak berterima kasih, ternyata nelayan tua itu telah hilang entah ke mana.

Seketika, Syarif Syam merasa bahwa nelayan tua itulah Waliyullah Cirebon yang tengah dicarinya. Penuh sukacita, Syarif Syam menyatakan "Suka" dan "Lillahi ta'ala" di tepi kali kecil itu. Karenanya, kali itu kini bernama Kali Sukalila. Syarif Syam kemudian dikenal pula dengan nama Pangeran Sukalila atau Pangeran Soka atau Jaka Soka.


Bersambung ke "Syekh Magelung"

=====

Syarif Syam

=====
Baca juga:
- Karanggetas dan Kali Sukalila

2 komentar:

  1. cerita yang bagus kang, tp kenapa bagian akhirnya tiba-tiba Syarif Syam mengatakan "suka", (atau bisa jadi ini asal mula kata-kata "like" di fb hehe pisss)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh... Bisa ajaa Mas Bro.
      Dulu kan, belom musim Fb. Lha wong internet aja atau bahkan komputer aja belum nongol.
      Yang paling logis adalah, Syarif Syam merasa "SUKA" dengan potongan rambut barunya.
      Atau bisa jadi dia "Suka" karena ternyata ada yang bisa memotong rambutnya. Bisa dijadiin langganan potong rambut. Heheheheh...

      TFCC (Thx 4 Come & Comment)

      Hapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.