Seloka [Kisah Mirip] Bagian 7 | Bokor Kuningan (Asal Mula Nama Kabupaten Kuningan)

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Seloka [Kisah Mirip] Bagian 7 | Bokor Kuningan (Asal Mula Nama Kabupaten Kuningan)

Kisah bokor kuningan versi Syarif  Hidayatullah pun dianggap berkaitan dengan nama Kuningan. Karena kelak, Putri Ang Liong Tien bertemu dan menikah dengan Syarif Hidayatullah. Kemudian mereka tinggal di kediaman Ki Gedeng Luragung di daerah Luragung Kuningan.
---


Bokor Kuningan




Menjelang masa awal pemerintahan Pajajaran (Prabu Ciung Wanara) saat itu yang berkuasa adalah Raja Kerajaan Galuh. Tak jelas siapa nama raja tersebut. Dipercaya, raja ini bersekutu dengan bangsa siluman, dan sangat tidak suka dengan para Resi atau Pendeta. Mungkin kerajaan ini masih berkaitan dengan Kerajaan Medang Kemolan atau Madang Kamulan era Prabu Cingkaradewa atau Prabu Dewata Cengkar (baca "Resi Wisaka").

Saat itu, di Gunung Padang hiduplah seorang pendeta bernama Ajar Sukresi atau Ajar Sukaresi atau Resi Ajar Soka. (Namanya mirip dengan Resi Wisaka atau Aji Saka.)

Resi Ajar Soka dipanggil dan diminta oleh Raja Galuh, untuk menaksir usia kehamilan istrinya yang perutnya sudah membuncit. Sejatinya, buncit perut Sang Putri tersebut merupakan akal-akalan Sang Raja. Sang Putri memasang bokor kuningan pada perutnya kemudian dilapsisi dengan kain selimut, hingga terlihat seperti sedang hamil. Perbuatan tersebut dilakukan semata-mata untuk mengelabui dan mencelakakan Sang Resi Ajar Soka saja. Karena jika salah menebak, maka Resi Ajar Soka akan kehilangan nyawanya.

Dengan waskitanya, Resi Ajar Soka telah mengetahui akal busuk Sang Raja. Namun Resi Ajar Soka tetap tenang dan mengatakan bahwa usia kandungan Sang Putri sudah bulannya, tinggal menunggu hari. Sang Raja tertawa gembira, merasa bisa memperdaya Resi Ajar Soka. Dengan pongahnya, Sang Raja berkata bahwa tebakan Resi Ajar Soka adalah salah, dan harus dihukumn mati. Sang Raja memerintahkan prajuritnya untuk membawa Resi Ajar Soka ke dalam penjara dan akan di eksekusi mati di Alun-alun Kerajaan Galuh.

Sang putri berteriak histeris, saat diketahui bokor kuningan dan kain selimut itu ternyata telah hilang dan perutnya benar-benar hamil.

Konon, Sang Raja menjadi sangat marah dan berjalan ke arah penjara. Saking marahnya, dia nendang apapun yang menyerupai bokor dan kuningan. Hampir semua benda-benda kuningan, terpental dan jatuh di suatu tempat yang kemudian bernama Kuningan. Hampir semua jenis kuali, jatuh di sekitar Ciamis, daerah itu kemudian disebut Kawali (ibukota pertama Kerajaan Pajajaran). Hampir semua jenis bokor, jatuh di suatu tempat yang kemudian bernama Bogor (atau Dayueh Pakuwuan, ibukota terakhir Kerajaan Pajajaran saat berperang dengan Pangeran Jayakarta, baca "Ronggeng Bugis"). Penjara pun hancur ditendang dan bertebaran ke arah Garut Selatan di daerah yang kemudian dinamakan Kandangwesi.

Dalam Babad Cirebon (termasuk versi Naskah Klayan) dan "tutur sepuh" (cerita turun temurun) masyarakat Kuningan, juga mengenal kisah bokor kuningan. Pada masa awal pembangunan Kesultanan Cirebon, Syekh Syarif Hidayatullah (yang kemudian bergelar Pangeran Cerbon dan Susuhunan Jati Purba atau Sunan Gunung Jati) berkeliling Jawa menemui para awlia (Sunan dan Syekh yang jatuh, terdampar atau datang ke tanah Jawa dan menetap, maupun keturunannya) untuk mengadakan pertemuan di Cirebon. Setelah itu Syarif Hidayatullah kembali ke Mesir menemui adiknya, Syarif 'Arifin.

Syarif 'Arifin mengira Syarif Hidayatullah hendak meminta kembali tahta kerajaan, maka Syarif 'Arifin pun menyerahkan tahta kerajaan kepada Syarif Hidayatullah. Tapi Syarif Hidayatullah menolak, kedatangannya hanya untuk menyambung tali silatirahmi. Kemudian Syarif Hidayatullah berniat menemui pamannya (adik ayahandanya) Raja Yutta, di Rum Bizantine (sekarang masuk wilayah Turki). Syarif Hidyatullah meminta Pulunggana (anak Syarif 'Arifin) untuk menemaninya ke Rum Bizantine.

Berikutnya, Syekh Syarif Hidayatullah bertolak ke negeri Cina. Syarif Hidayutllah berbaur dengan masyarakat dan menyebarkan ajaran Islam. Syarif Hidayatullah sangat dihormati oleh masyarakat yang didatanginya dan banyak pula yang sudah menganut Agama Islam.

Pada saat itu kemudian tejadi kebakaran di tempat pembakaran keramik. Di dalam rumah yang menyala-nyala dilanda api, tak ada seorangpun yang berani menyelamatkan bayi yang masih ada di dalamnya. Dengan tenangnya Syarif Hidayatullah masuk untuk menyelamatkan bayi melewati kobaran api yang menyala. Bayi dapat diselamatkan dengan keadaan utuh dan sehat. Begitu pula dengan Syarif Hidayatullah, bahkan pakaiannya tidak terbakar sedikitpun. Penduduk terkagum-kagum dan dianggapnya Syarif Hidayatullah adalah ulama yang sakti.

Peristiwa itu terdengar oleh Kaisar Cina. Sang Kaisar ingin menguji kehebatan Syarif Hidayatullah. Maka, diundanglah Syarif Hidayahtullah ke Istana. Di istana, siapapun harus menunduk di hadapan Kaisar, tidak boleh melihat wajahnya.

Dalam perjamuan, Syarif Hidayatullah mengangkat tinggi kangkung yang akan dimakannya. Dengan demikian, Syarif Hidayatullah bisa melihat muka Sang Kaisar Cina. Kecerdikan ini tak luput dari pengamatan Sang Kaisar.

Sang Kaisar kemudian menyuruh masuk putri dan kedua dayang-dayangnya. Kepada Syarif Hidayatullah, Sang Kaisar mempersilakan menebak, siapa di antara ketiga perempuan itu yang merupakan putrinya. Syarif Hidayatullah mengatakan yang di atas kepalanya bersinar seperti memakai mahkota. Sang Putri, yang bernama Ang Liong Tien (atau Ong Tien Nio) serta merta melirik ke atas kepalanya. Kedua dayang-dayang pun melirik ke atas kepala Sang Putri.

Sang Kaisar menilai kembali kecerdikan Syarif Hidayatullah. Namun sesungguhnya, memang ada aura yang bersinar di cakra mahkota Sang Putri. Tapi memang hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihat sinar atau cahaya aura.

Berikutnya, Syarif Hidayatullah dipersilakan menebak apakah putri An Liong Tien benar-benar mengandung atau tidak. Sesungguhnya, perut sang Putri telah diganjal bantal dan bokor kuningan, hingga seperti sedang mengandung.

Syarif Hidayahtullah berkata bahwa Sang Putri memang mengandung. Syarif Hidayahtullah akhirnya dihardik oleh Sang Kaisar yang kemudian menuduh Syarif Hidayatullah sebagai ulama palsu. Akan tetapi saat Sang Putri akan melapas bantal dan bokor kuningan dalam keputren, seorang emban menjerit-jerit bahwa Putri Ang Liong Tien benar-benar mengandung. Setelah dilihat oleh kaisar benar juga adanya.

Demikian marahnya Sang Kaisar hingga Syarif Hidayatullah mendapat hukuman diikat dalam keranjang anyaman bambu mirip kandang ayam, dan ditenggelamkan ke laut dengan batu pemberat. Hukuman macam ini, di Cina pada waktu itu, biasanya untuk para pasangan zina atau pemerkosa.

Batu pemberat itu memang tenggelam, tapi ikatannya terlepas. Bahkan Syarif Hidayatullah pun terlepas ikatannya. Anyaman bambu itu kemudian menjadi kendaraan Syarif Hidayatullah, berlayar kembali ke Cirebon. Mungkin peristiwa ini yang dijadikan prosesi dalam seni tari "Sintren".

Melihat hal itu, Sang Kaisar menyesali perbuatannya. Sang Kaisar menyadari bahwa Syarif Hidayatullah pastilah benar-benar seorang ulama. Kepada putrinya, Ang Liong Tien, Sang Kaisar menyuruhnya menyusul Syarif Hidayatullah ke Cirebon untuk memohon maaf. Sebuah kapal, lengkap dengan ABK dan perbekalan secukupnya, dipersiapkan untuk Sang Putri menyusul ke Cirebon.

Kisah bokor kuningan versi Syarif  Hidayatullah pun dianggap berkaitan dengan nama Kuningan. Karena kelak, Putri Ang Liong Tien bertemu dan menikah dengan Syarif Hidayatullah. Kemudian mereka tinggal di kediaman Ki Gedeng Luragung di daerah Luragung Kuningan.


Bersambung ke "Arya Kemuning (Pangeran Arya Adipati Kuningan)"
=====

Bokor Kuningan

=====
Baca juga:
- "Mbah Kuwu Sangkan"
- "Syarif Syam adalah Syekh Magelung Sakti"
- "Syekh Magelung"
- "Nyi Mas Gandasari"
- "Seloka Bagian 6"

1 komentar:

  1. menarik gan , kunjungi : simple-tutors.blogspot.co.id

    BalasHapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.