Macan Putih Project : Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wewangi

Page Rank

Sponsor
Dapat uang melalui internet

Submit Alternative
by EntireWeb.com
Free Search Engine Submission

Kamis, 15 November 2012

Mbah Kuwu Sangkan | Cirebon

Salju Shop - Kupon Diskon Ekslusif
Pangeran Cakra Buana menjadi penasehat utama. Oleh masyarakat Cerbon, beliau masih dianggap sebagai kuwu sepuh, dan dikenal dengan nama Mbah Kuwu Sangkan.
---

Jangan ngaku orang Cirebon, kalau tak mengenal Mbah Kuwu Sangkan. :D

Mbah Kuwu Sangkan

Raden Walangsungsang



Gambar diunduh dari http://2.bp.blogspot.com/-zMqJNRoyWJI/UMmPWHcGBYI/AAAAAAAAAHE/NAA1H6sXEfE/s1600/SAMPUL.jpg pada http://gandigrap.blogspot.com/2012/04/caruban-nagari-pangeran-cakabuana.html

Terlahir dengan nama [Raden] Walangsungsang, anak sulung dari tiga bersaudara beserta [Nyi Dewi] Rara Santang atau Lara Santang (Yang kelak bernama Hj. Syarifah Muda’im, setelah ibadah Haji), dan [Raja] Sangara (Yang juga dikenal dengan nama Kian Santang).

Ayahnya adalah Raden Pamanah Rasa, pewaris tahta Pajajaran (Kerajaan Galuh Pakuwuan), yang kelak dikenal dengan dengan nama Prabu Siliwangi. Raden Pamanah Rasa adalah anak dari Prabu Anggalarang, Raja Kerajaan Galuh.

Ibunya bernama Nyi Subanglarang anak dari Syekh Quro (Kerawang). Syekh Quro atau Syekh Hasannudin adalah pemimpin (Kyai) pesantren Quro sekaligus pemimpin di wilayah pelabuhan Kerawang (Qurotul ‘Ain) bergelar Mangkubumi Jumajan Jati. Ternyata, dalam penelusuran berikutnya, Syekh Quro adalah juga seorang raja dari negeri seberang (Kemlaka atau Champa), yang meninggalkan tahta dan keluarganya untuk bertapa. Tempatnya bertapa kemudian diberi nama Nagari Singapura (Martasinga atau Mertasinga), yang menjadi bawahan Kerajaan Galuh. Di sana, beliau dikenal dengan nama Ki Gede[ng] Tapa, tanpa ada yang tahu asal-usul atau nama aslinya. Bertemu kembali dengan puterinya Subanglarang, yang terlahir dengan nama Subang Keranjang, saat puterinya hendak memperdalam agama islam di Pesantren Quro, yang dipimpinnya. (Dalam suatu kisah, diceritakan Syekh Quro mendarat di Kerawang bersama armada ekspedisi Laksamana Muhammad Cheng Ho atau Ma Cheng Ho atau Sam Po Kong. Tapi dalam versi lain, mengatakan bahwa Syekh Quro dan Ki Gede Tapa adalah orang yang berbeda.)

Sebelum menikah dengan Subanglarang atau Subang Keranjang, Raden Pamanah Rasa telah menikahi sepupunya Nyi Ambet Kasih, putri dari Ki Gedeng Sedhang Kasih atau Ki Gede Sindang Kasih (pemimpin Negeri Surantaka, tetangga Negeri Singapura, yang juga bawahan Kerajaan Galuh. Versi lain mengatakan bahwa Galuh-lah bawahan Sindang Kasih). Ki Gede Sindang Kasih adalah adik dari Prabu Anggalarang. (Dalam suatu legenda, diceritakan bahwa Prabu Anggalarang pernah berkelana sebagai kera, yang dikenal dengan Lutung Kasarung, dan bertemu Puteri Purba Sari, yang kemudian menjadi permaisurinya.)


Ki Samadullah


Dalam pengembaraan spiritualnya, Walangsungsang singgah di rumah Ki Danuwarsih, seorang pendeta Budha. Beberapa hari kemudian datanglah Rara Santang, yang juga meninggalkan keraton, untuk mencari kakaknya. Saking gembiranya bertemu sang adik, Walangsungsang memeluk dan mencium adiknya. Hal ini menimbulkan kecemburuan bagi Nyi Indang Geulis, puteri dari Ki Danuwarsih. Ki Danuwarsih sendiri melihat gelagat puterinya, dan merestui puterinya dinikahi Walangsungsang.

Bersama istri dan adiknya, Walangsungsang melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian bermukim di tempat Syekh Datuk Kahfi untuk memperdalam agama Islam. Di sana, Walangsungsang diberi nama Ki Samadullah. Syekh Datuk Kahfi atau dikenal juga dengan nama Syekh Idhopi, adalah penerus kepemimpinan pesantren Amparan Jati di Gunung Jati, menggantikan pemimpin pesantren sebelumnya bernama Syekh Nur Jati.


Mbah Kuwu Cirebon


Atas anjuran gurunya, Walangsungsang menemui Ki Gedeng Alang-alang (Ki Gede Pengalang-alang) untuk membuka daerah baru. Walangsungsang mendirikan Masjid Yang bernama Sang Tajug Jalagrahan, sebagai symbol pusat keagamaan, kemudian lebih dikenal sebagai Masjid Pejalagrahan. Daerah yang baru dibuka ini awalnya bernama Tegal Alang-alang, kemudian dikenal juga dengan sebutan Kebon Pesisir, yang kelak dikenal sebagai pelabuhan Muara Jati. Lalu memindahkan pusat pemukiman ke pedukuhan Lemah Wungkuk. Dalam perkembangan berikutnya, dukuh Lemah Wungkuk menjadi sebuah kota, dengan dukuh atau kampung lain di sekitarnya, dan diberi nama kota Cirebon atau Grage. Walangsungsang dan Ki Gede Pengalang-alang adalah dwitunggal yang tak terpisahkan. Ki Gede Pengalang-alang mendapat sebutan Kuwu Cirebon I, sedangkan Walangsungsang sebagai Kuwu Cirebon II. Dalam perkembangan berikutnya, Kuwu Cirebon II dikenal sebagai Mbah Kuwu Cirebon.

Hari jadi kota Cirebon ditandai pada tanggal 14 Kresna Paksa bulan Caitra tahun 1367 Saka atau bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 849 Hijrah (8 April 1445 M). Tapi tak jelas benar, apakah itu pada saat membuka wilayah Tegal Alang-alang (Pelabuhan Muara Jati), saat pemindahan pusat pemukiman ke dukuh Lemah Wungkuk, atau saat mendirikan kota Kerajaan (Cirebon).


H. Abdullah Iman


Atas anjuran gurunya pula, Walangsungsang dan Rara Santang pergi ke Tanah Suci. Di Tanah Suci ini, Walang Sungsang berganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. Sedangkan adiknya, Rara santang, berganti nama menjadi Hj. Syarifah Muda’im.

Hj. Syarifah Muda’im kemudian menikah dengan Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. Kelak akan melahirkan Maulana Syarif Hidayatullah atau dikenal juga dengan nama Sunan Gunung Jati.

Walangsungsang sempat mukim selama tiga bulan di Tanah Suci. Saat itulah beliau belajar tasawuf dari Haji Bayanullah, seorang ulama yang sudah lama tinggal di Haramain. Selanjutnya ia pergi ke Baghdad mempelajari fiqh.


Pangeran Cakra Buana


Kembali ke tanah air, Walangsungsang mendirikan rumah besar. Tapi, tak berapa lama kemudian, terdengar kabar bahwa kakeknya, Ki Gede Tapa (ayah dari Subanglarang) wafat. Walangsungsang mendapat warisan berupa harta dan tahta di wilayah Mertasinga (Nagari Singapura), yang sebenarnya jatuh ke Subanglarang, ibunya.

Sedangkan syahbandar Karawang dan pesantren Quro, diteruskan oleh Musanuddin, cicitnya. Musanuddin dikenal pula dengan beberapa nama, diantaranya, Lebe Musa, Lebe Uca, Syekh Bentong atau Syekh Gentong. Lebe adalah gelar dari masyarakat yang diberikan bagi seorang penghulu agung. (Versi lain mengatakan bahwa Syekh Gentong adalah anak angkat Syekh Quro. Sedangkan penghulu pertama di Karawang adalah Syekh Ahmad, anaknya yang lahir dari pernikannya dengan Retna Sundari.)

Walangsungsang tidak meneruskan kekuasaan di Mertasinga. Beliau memboyong harta warisannya ke Cirebon. Rumah besar yang didirikannya, dijadikan keraton, yang kelak dikenal sebagai Keraton Pakungwati. Walangsungsang pun membentuk pasukan, sebagai Pakuwuan yang berdaulat, yang diberi nama Nagari Carubanlarang. Sejak saat itu, namanya menjadi Pangeran Cakra Buana atau Cakra Bumi.

Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, merestui dengan memberikan gelar Sri Mangana, dan dianggap sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan Pangeran Cakrabuana.

(Versi lain mengatakan bahwa Walangsungsang mendirikan rumah besar, bersamaan dengan membangun Masjid Sang Tajug Jalagrahan atau Pejalagrahan atau Pesanggrahan.)


Mbah Kuwu Sangkan


Kedatangan Syarif Hidayatullah menandai era baru kekuasaan dan penyebaran Islam di Jawa Barat.

Setelah berguru di berbagai negara, kemudian tiba di Jawa. Dengan persetujuan Sunan Ampel dan para wali lainnya disarankan untuk menyebarkan agama Islam di Tatar Sunda. Syarif Hidayatullah pergi ke Caruban Larang dan bergabung dengan uwaknya, Pangeran Cakrabuana. Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati kemudian terus ke Desa Sembung-Pasambangan, dekat Amparan Jati, dan mengajar Agama Islam, menggantikan Syekh Datuk Kahfi.

Syarif Hidayatullah yang kemudian bergelar Syekh Jati juga mengajar di dukuh Babadan. Di sana ia menemukan jodohnya dengan Nyai Babadan Puteri Ki Gedeng Babadan. Karena isterinya meninggal, Syekh Jati kemudian menikah lagi dengan Dewi Pakungwati, puteri Pangeran Cakra Buana, disamping menikahi Nyai Lara Bagdad, puteri sahabat Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Jati kemudian pergi ke Banten untuk mengajarkan agama Islam di sana. Ternyata Bupati Kawunganten yang keturunan Pajajaran sangat tertarik, sehingga masuk Islam dan memberikan adiknya untuk diperistri. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten, lahirlah Pangeran Saba Kingkin, kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten.

Sementara itu Pangeran Cakra Buana meminta Syekh Jati menggantikan kedudukannya dan Syarif Hidayatullah pun kembali ke Caruban. Di Caruban ia dinobatkan sebagai kepala Nagari dan digelari Susuhunan Jati atau Sunan Jati atau Sunan Caruban atau Cerbon. Sejak itulah, Caruban Larang dari sebuah nagari mulai dikembangkan sebagai Pusat Kesultanan dan namanya diganti menjadi Cerbon.

Pangeran Cakra Buana menjadi penasehat utama. Oleh masyarakat Cerbon, beliau masih dianggap sebagai kuwu sepuh, dan dikenal dengan nama Mbah Kuwu Sangkan.


Lompat ke:

- "Syekh Nurjati"
- "Kian Santang"
- "Syekh Magelung Sakti"
- "Syekh Magelung (lanjutan)"
- "Nyi Mas Gandasari"
- "Arya Wiralodra"
- "Arya Wiralodra (Bagian 2)"
- "Seloka Bagian 1"
===

Mbah Kuwu Sangkan

===

Baca juga:
- "Jadi, Grage Itu Apanya Cirebon?"

5 komentar:

  1. Assalamu'alaikum wr.wb.
    Perkenalkan nama saya Ahmad Syuja'i/Suja'i Sarifandi asli Cirebon juga, tepatnya di Blok Pesantren al-Jauhariyah-Balerante-Palimanan-Cirebon. Sekarang tinggal di Pekanbaru Riau...
    Setelah membaca tulisan Mas Dodi ttg "Sejarah Cirebon",pertama,ucapan terimakasih&apresiasi saya,kedua klu boleh saya menyampaikan saran dan masukkan tulisan Mas tsb.supaya dilengkapi dg sumber&referensi(bodynote/footnote. Ketiga dlm tulisan tsb ada 2 nama yg tertinggal,yaitu nama Langlang Buana&Syekh Mursyahadatillah, &Sebutan utk "Syekh Datuk Kahfi" mana yg benar "Syekh Datuk Kahfi" atau "Syekh Dzatul Kahfi" (Syek yng tinggal di gua)?Kesuwun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa Alaikumus Salam Wr Wb

      Ahlan Kang Ahmad Syuja'i/Suja'i Sarifandi
      1. Terima kasih juga atas apresiasinya kepada tulisan saya. Semoga betah ngoprek tulisan-tulisan saya yang lain (dengan gaya yang berbeda-beda, sehingga saya pun sempat dikritik).
      2. Saran dan masukan tentu sangat berguna untuk saya. Tentunya anda pun telah melihat bagian Disklaimer (Sangkalan) pada Blog saya. Saat saya mengutip atau bersumber pada buku, akan saya tulis Judul buku tersebut. Saat saya mengacu pada tulisan di internet, langsung saya buat link URL ke tempat saya membaca di situs tersebut. Tulisan saya yang ini lebih merupakan pengetahuan yang saya dapat dari tutur nenek saya, ditambah diskusi saya dengan tetangga yang masih keturunan Ki Gede Pekiringan. Tentu saja masih bisa ditelusuri juga referensi buku dan situs internetnya, tapi saya memilih ini tulisan sebagai wacana saya sendiri. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada.
      3. Memang betul, ada nama-nama tersebut. Bahkan ada pula sebutan lain untuk Walangsungsang, semisal pendekar Gagak Lumayung, ulama pendekar Kian Santang, dll. Sengaja tidak saya sebutkan karena ada kerancuan dengan tokoh-tokoh lain. Insya allah, akan segera menyusul tulisan saya mengenai beberapa kerancuan atau kemiripan nama-nama tokoh ini, kalau mood saya sudah jalan lagi :) . Paling tidak saya sudah merintis dengan tulisan Seloka [Kisah Mirip].
      4. Mungkin saya salah. Nanti akan saya teliti lebih lanjut. Ada cerita yang mengatakan bahwa Syekh Datuk Kahfi adalah juga Syekh Dzatul Kahfi, mewarisi nama dari gurunya (Syekh Dzatul Kahfi). Ada versi yang mengatakan bahwa Syekh Dzatul Kahfi (sang guru) mendapat gelar tersebut karena berusia sangat lanjut (bahkan purwa) sehingga disepadankan dengan Ashabul Kahfi, senada dengan itu, ada versi tentang jelmaan Nabi Uzair bahkan versi Nabi Sis. Ini pun akan saya rangkai (secara bersambung) pada judul Seloka [Kisah Mirip-Nama Mirip-Istilah Mirip].
      Itulah sebabnya saya hanya menampilkan nama-nama yang masih dalam versi umum saja. :)


      Sami-sami kesuwun Kang Ahmad Syuja'i/Suja'i Sarifandi
      TFCC (Thx 4 Come & Comment)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Kalo gambar yang tertera, saya unduh dari http://gandigrap.blogspot.com/2012/04/caruban-nagari-pangeran-cakabuana.html (silakan mampir ke sana). Saya sudah minta ijin dari si pemilik blog, gambar cover bukunya saya tampilkan di judul saya ini. Sebelumnya, yang saya tampilkan adalah lukisan foto yang di Wikipedia.

      Saya pernah pegang "Babad Cirebon: Babad Tanah Sunda" mungkin sudah tidak terbit lagi. Saya pun lupa versi mana, karena buku pegangan saya itu pun sudah hilang entah ke mana. Untuk yang "Caruban Nagari" atau "Nagari Carubanlarang" keluaran Keraton Kesepuhan bisa dilihat di scribd, tapi masih berupa syair dan menggunakan bahasa Cirebon Kuno. Yang sudah diterjemahkan, adalah "Babad Cirebon" versi Klayan, bisa dilihat di http://cirebonme.blogspot.com/2008/07/babadcirebonversiklayan.html silakan kunjungi.

      Dalam setiap versi, tentu ada perbedaan-perbedaan. Yang saya tulis di sini, hanyalah hal umum yang ada kesamaan atau kemiripan di setiap versi. Dan saya masih lebih berpegang pada ingatan saya pada cerita dari almarhumah nenek saya. Beruntung saya pun berteman (sudah seperti saudara) dengan beberapa pemegang silsilah Keraton Kesepuhan dan Kanoman, juga yang masih keturunan Ki Gede.

      Hapus
  3. Assalamualaikum kang, saya Didi Dari Matangaji cirebon..mau tanya mengenai sejarah Sultan Sepuh Shafiudin / Matangaji. kalau tidak keberatan silahkan kirim ke email saya..didisuradi@ymail.com tau di FB Didi S Guard.

    Terima kasih,

    Wasslam,

    Didi S Guard

    BalasHapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema. Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan saya hapus.