Sintren (2) | Pangeran Jayakarta | Di Balik Nama Betawi

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Sintren (2) | Pangeran Jayakarta | Di Balik Nama Betawi

Pengganti Pangeran Fatahillah menyandang nama Pangeran Jayakarta juga. Dalam kepemimpinan Pangeran Jayakarta berikutnya, kota bandar Jayakarta maju pesat. Hal ini mengundang niat VOC, pimpinan Jan Pieterszoon Coen, atau biasa disebut Murjangkung oleh inlander, untuk buka lapak di sana. Sebelumnya, VOC telah buka lapak di Maluku.
---
Sambungan dari "Sintren (1)"
Sintren (2)


Pangeran Jayakarta

Di Balik Nama Betawi (1)


Foto diunduh dari
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/c/c9/Seni_Sintren.jpg
 pada Sintren menurut Wikipedia
(http://id.wikipedia.org/wiki/Sintren)
Suatu ketika, saya pernah bertanya pada Emak, apa arti Sintren itu. Emak bilang itu sinteran, atau sindiran, juga sitiran. Pertama nyindir orang-orang Belanda yang suka dansa-dansi. Kedua, Fatahillah atau Faletehan atau Fadhilah Khan yang lolos dari fitnah di Malaka. Ketiga, Pangeran Jayakarta yang lolos dari pengepungan Belanda.

Setelah dikuasainya Sunda Kelapa oleh Fatahillah, kemudian diganti namanya menjadi Jayakarta (baca kembali "Ronggeng Bugis"). Fatahillah bergelar pangeran memimpin Jayakarta, tapi hanya sebentar. Karena dipanggil kembali oleh Sunan Gunung Jati untuk selalu menjadi wakil menggantikan posisinya memerintah Cirebon. Kemudian Resmi memerintah Cirebon, setelah Sunan Gunung Jati wafat. Fatahillah pun menyandang nama Sunan Gunung Jati II. Itu pun hanya 2 tahun kemudian meninggal. (Mungkin karena itulah ada versi yang mengatakan bahwa Fatahillah dengan Sunan Gunung Jati adalah orang yang sama).

Pengganti Pangeran Fatahillah menyandang nama Pangeran Jayakarta juga. Dalam kepemimpinan Pangeran Jayakarta berikutnya, kota bandar Jayakarta maju pesat. Hal ini mengundang niat VOC, pimpinan Jan Pieterszoon Coen, atau biasa disebut Murjangkung oleh inlander, untuk buka lapak di sana. Sebelumnya, VOC telah buka lapak di Maluku.

Awalnya VOC hanya mendapat sebidang tanah, dari Pangeran Jayakarta, melakukan perdagangan. Lambat laun VOC merambah secara wilayah tanah, menggerogoti simbol-simbol kekuasaan Pangeran Jayakarta selaku penguasa kota pelabuhan itu, lalu memainkan praktek monopoli. Timbullah pertikaian terbuka antara Pangeran Jayakarta dengan Jan Pieterszoon Coen.

Pangeran Jayakarta bersekutu dengan Inggris. Inggris bermarkas pada bagian sisi barat muara sungai Ciliwung. Pangeran Jayakarta pun mendapat bantuan pasukan dari Banten. Jan Pieterszoon Coen terusir dari Jayakarta lalu kembali ke Maluku membawa seluruh pasukannya. Jan Pieterszoon Coen sudah berniat memindahkan markas dagang VOC ke Jayakarta.

Sementara itu, persekutuan Pangeran Jayakarta dengan Inggris pecah. Inggris pun terusir dari Jayakarta. Lelah dengan kedua pertempuran tadi, datang kembali Jan Pieterszoon Coen dengan semangat baru beserta seluruh pasukan yang Jan Pieterszoon Coen bawa dari Maluku.

Jan Pieterszoon Coen memang akhirnya berhasil menduduki Jayakarta. Ketika Jan Pieterszoon Coen berkuasa, ia ingin mengganti nama Jayakarta menjadi Nieuwe Hollandia. Namun keinginan Jan Pieterszoon Coen tidak direstui oleh de Heeren Seventien (Belanda). Kemudian Jan Pieterszoon Coen memutuskan merubah Jayakarta menjadi Batavia, diambil dari nama suku Batavieren. Suku Batavieren adalah percampuran antara bangsa Belanda dan Jerman. Suku Batavieren hidup rukun di tepian sungai Rhein.

Pangeran Jayakarta bersembunyi dalam hutan Jatinegara. Sebagian Pasukannya melarikan diri ke Banten. Dengan pasukan seadanya, Pangeran Jayakarta, selalu mengganggu keberadaan VOC di Jayakarta, yang kini telah berubah menjadi Batavia. VOC berhasil menyergap lalu membunuih Pangeran Jakarta dekat sebuah sumur. Kemudian sumur itu ditandai sebagai tempat kematian Pangeran Jayakarta, kini menjadi Jalan Pangeran Jayakarta. Namun setiap Pangeran Jayakarta dianggap gugur dalam satu pertempuran, ternyata Pangeran Jayakarta muncul lagi pada pertempuran lain.

Di Cirebon, Fatahillah hanya memusatkan perhatiannya pada kehidupan beribadah. Sepeniggalan Fatahillah, VOC pun telah merambah dan campur tangan di Cirebon. Fatahillah membagi kekuasaan Cirebon kepada anak-anaknya.

***

Dengan terpecahnya perselisihan antar penerus Demak, Banten menyatakan diri bukan lagi dalam kekuasaan Demak. Sementara Cirebon adalah dalam kekuasaan Banten. Demak terpecah, berganti menjadi Mataram.

Mataram mengirim utusan ke Banten agar tunduk kembali dalam kekuasaannya. Banten menolak. Mataram saat kepemimpinan Sultan Agung adalah juga keturunan Pajang. Maka Pajang masih bersikap mendukung Mataram. Jayalengkara (Adipati Surabaya) terang-terangan menentang Mataram.


Bersambung ke "Sintren 3"

Sintren : < 1 2 3 4 5 >

=====

Pangeran Jayakarta

=====

Tidak ada komentar:

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.