Minggu Pagi di Kota Cirebon (Bagian 2) | Stadion Bima

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Minggu Pagi di Kota Cirebon (Bagian 2) | Stadion Bima

Dalam sejarahnya, stadion yang menjadi homebase (atau kandang) PSIT (Cirebon) ini pernah pula dijadikan homebase bagi klub Bintang Timur (Cirebon). Bintang Timur adalah klub Galatama asal Jakarta yang menggunakan Stadion Bima sebagai homebase-nya. Selain itu, Mataram Indocement (Yogyakarta) pun sempat pindah ke Cirebon dengan nama Mataram Indocement (divisi utama) dan Indocement (divisi I) sebelum akhirnya pindah ke Jakarta Timur (Stadion Bea Cukai).
---


Catatan lama yang sempat lupa tayang
Minggu Pagi di Kota Cirebon (Bagian 2)
Stadion Bima



Gerbang Utama Stadion Bima

Stadion Bima pernah dipakai OVJ (Opera Van Java) Road Show “Cirebon, Jeh”.


---

Seperti stadion yang lain, Stadion Bima (awalnya sering juga disebut Stadion Pertamina) sebenarnya juga tempat berlatih olah raga, sekaligus untuk acara pertandingan, umumnya sepak bola. Konon, Stadion Bima dibangun oleh Pertamina dan memang berada di kompleks perumahan “Bima” Pertamina Kota Cirebon.

Dalam sejarahnya, stadion yang menjadi homebase (atau kandang) PSIT (Cirebon) ini pernah pula dijadikan homebase bagi klub Bintang Timur (Cirebon). Bintang Timur adalah klub Galatama asal Jakarta yang menggunakan Stadion Bima sebagai homebase-nya. Selain itu, Mataram Indocement (Yogyakarta) pun sempat pindah ke Cirebon dengan nama Mataram Indocement (divisi utama) dan Indocement (divisi I) sebelum akhirnya pindah ke Jakarta Timur (Stadion Bea Cukai).

Selain itu, Stadion Bima pun pernah menjadi tuan rumah babak play off promosi-degradasi yang mempertandingkan Persema Malang (peringkat ke-11 Divisi Utama Perserikatan 1985), Persija Jakarta Pusat (peringkat ke-12 Divisi Utama Perserikatan 1985), Persiba Balikpapan (juara Divisi I Perserikatan 1985), dan PSIM Yogyakarta (runner-up Divisi I Perserikatan 1985).

Gerbang Pintu 2 Stadion Bima


Namun demikian, jarang ada yang tahu bahwa dalam pembukaan atau peresmian Stadion Bima yang saat baru dibangun itu dimeriahkan oleh pertandingan klub divisi I Swedia, Osters. Dalam rangka memeriahkan pembukaan Stadion Bima pada November 1974 digelarlah pertandingan Osters (Swedia) melawan Pertamina. Hasilnya, klub asal Swedia itu menang tipis 3-2.

---

Om (adik papa) saya dan istrinya, yang rumahnya saling berhadapan dengan rumah saya, waktu itu, hampir tak pernah absen untuk pergi ke Stadion Bima ini tiap hari Minggu pagi. Sepupu saya (anak om yang tertua) dengan suami dan anak-anaknya, mewarisi ‘tradisi’ ini. Mereka biasa pergi bersama. Sering saya atau istri, diajak serta, tapi sering kali kami menolak.


Sekali waktu (sekira bulan oktober tahun 2011 lalu) saya ikut, beserta istri dan Altan. Saya mengenakan celana training dan kaos oblong. Istri saya membawa alat gendongan (bukan selendang) untuk membawa Altan. Tak lupa, saya pun menyiapkan pengikat (alat bantu jalan) bayi, mirip perlengkapan keamanan flying fox tapi lebih sederhana, agar bisa membawa Altan (latihan) berjalan.


Altan (saat usia sekitar 7 bulan) dalam tali ikatan/pengaman (alat bantu jalan) yang mirip perlengkapan flying fox.


Area parkir yang cukup luas terasa sesak di bagian dalam, karena dipenuhi pedagang. Sampai di sini kami menyebar. Mulanya, kami (saya, istri dan Altan) mengikuti ke mana Om dan istrinya pergi. Ketika kami berhenti untuk membeli buras (lontong isi) untuk Altan, ternyata kami ditinggal. Kami pun berkeliling sendiri.



Melihat penjual sayur (mentah), istri saya berhenti untuk belanja. Di tempat lain kami pun beli telur, roti Bread Co. (Yogya Dept. Store), sandal untuk Altan, dan masih banyak lagi. Maklum, tergiur harga yang lumayan miring. Berbanding terbalik dengan harga-harga segala mainan anak, arena bermain, dan segala macam ‘odong-odong’ termasuk ‘kereta api’ yang berputar mengitari luar Stadion, harganya menjadi dua kali lipat.



Kebetulan kami melihat sepupu saya yang sedang menunggu anak sulungnya di arena bermain anak. Kemudian kami, bersama-sama berjalan menuju mobil, untuk menyimpan belanjaan. Lalu sepupu saya mengajak mencari suaminya yang sedang menemani anak kedua mereka naik ‘odong-odong’. Setelah bertemu, kami menunggu sejenak sampai selesainya naik ‘odong-odong’. Semua ‘odong-odong’ sudah dinaikinya, kebetulan itu adalah yang terakhir. Lalu kami menuju tenda warung docang, sarapan kegemaran orang Cirebon. Di sana sudah menunggu om saya dan istrinya.



Selesai makan docang, kami pun beranjak pulang. Mungkin sekitar jam 9 pagi. Di mobil, dalam perjalanan pulang, saya berujar, “Kirain, ke stadion itu, mau diajak olah raga. Eh, ternyata… belanja.”



Saat kami pulang, di area parkir masih ramai pedagang dan pengunjung yang berkeliling.



Pernah sekali waktu, karena masalah teknis, kami menunggu di area parkir sampai jam 11 siang. Banyak pedagang yang sudah pulang, sebagian sudah berkemas, lainnya masih menunggu (mungkin berharap dagangannya bisa habis terjual).

Hari Minggu berikutnya, kami tak ikut lagi ke Stadion Bima. Barulah selang 2 minggu berikutnya kami ikut kembali. Jumlah pedagang --yang menggelar dagangannya-- sudah dua kali lipat. Mungkin tahun-tahun berikutnya, area parkir sudah tak bisa untuk parkir karena sudah di-okupasi oleh para pedagang.

Selamat menikmati

Minggu Pagi di Kota Cirebon
1. Alun-alun Kejaksan

=====

Stadion Bima

=====

Baca juga :

Tidak ada komentar:

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.