Macan Putih (2)

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Macan Putih (2)

Memang banyak yang merasa memiliki kaitan dengan "Macan Putih". "Macan Putih" tidak hanya tersebar di Jawa Barat dan Jakarta saja. Saya pribadi sebenarnya sempat lupa dengan cerita "Macan Putih" yang pernah saya dengar dari almarhumah Emak. Kedatangan Si Sohib ini, membongkar lembar demi lembar ingatan yang telah terkubur di alam bawah sadar.
---

Sambungan dari "Macan Putih"
Asal-usul Macan Putih Cirebon

Macan Putih





Mundur kembali saat awal saya bikin blog ini (baca Pengantar), saya hanya ingin ikut-ikutan nulis. Sahabat saya, dari Jakarta datang ke Cirebon, mencari bahan tulisan untuk ditulis di sebuah blog Wisata ternama, The Aroengbinang Project. Saya ingin ikut menulis juga tapi tidak mau terikat aturan SEO. Maka saya bikin blog sendiri, saya namakan Macan Putih Project. Sementara header blog, berjudul "Catatan Perjalanan".

Saat menulis ini pun, di hati ini masih ragu. "Perlukah hal ini diungkap?"

Saat Sahabat/Sohib saya itu datang, dia bercerita tentang perkembangan nama "Macan Putih" atau "Maung Bodas" di Jawa Barat. Maka saya pun cerita tentang kakek saya (yang saya panggil Abah) dan murid-muridnya.

Pada masanya, Abah adalah seorang ustadz sekaligus pendekar terkenal dari Kebon Panggung. Namanya adalah Muhammad Bongkar (setelah wafat, memperoleh Haji badal, dan menjadi H. Muhammad Bongkar). Sebutannya adalah "Kang Bong", "Mang Bong" atau "Wa Bong". Iconnya adalah "Macan Putih" (atau "Maung Bodas" dalam bahasa sunda), serupa dengan icon Prabu Siliwangi. Karena konon, Abah memang memiliki ilmu kanuragan "Macan Putih" atau "Siliwangian".

Bahkan menurut cerita para tetangga di Kebon Panggung yang sudah sepuh, kadang mereka diperlihatkan "macan" milik Abah yang sebesar kerbau. Konon, "macan" itu masih menjaga kami para keturunan Abah. Saya sendiri tak mengerti soal-soal seperti ini.

Diantara murid-muridnya adalah orang-orang sunda dan betawi. Mereka kemudian mendirikan Padepokan, Pesantren atau sekolah umum dengan embel-embel "Macan Putih" atau "Maung Bodas" juga. Ada pula yang memakai nama lain dengan diberi tambahan "Bongkar", "Kang Bong", "Mang Bong" atau "Wa Bong" (beberapa diantaranya masih bisa ditemui di sekitar Pasar Minggu, Depok, Citayam sampai Bojong Gede). Beberapa dari mereka masih kenal saya, dan menghormati saya sebagai cucu dari guru mereka.

Si Sohib ini pun mengingatkan tentang Almarhumah nenek (yang saya panggil Emak) bahwa Emak pun dari kalangan pendekar juga (pendekar perempuan, tentunya).

Memang banyak yang merasa memiliki kaitan dengan "Macan Putih". "Macan Putih" tidak hanya tersebar di Jawa Barat dan Jakarta saja. Saya pribadi sebenarnya sempat lupa dengan cerita "Macan Putih" yang pernah saya dengar dari almarhumah Emak. Kedatangan Si Sohib ini, membongkar lembar demi lembar ingatan yang telah terkubur di alam bawah sadar.

Belakangan ini, baru saya pahami beberapa kaitan "Macan Putih". Belum disadari saat kedatangan Sohib itu.

Dulu, di Jawa Barat (termasuk Jakarta), ada dua lambang yang biasa dipakai oleh kerajaan, yaitu Gajah Putih dan Macan Putih. Tidak terkecuali di wilayah Cirebon.


Negeri Gajah Putih di Cirebon.

1. Dimulai pada masa Madang Kamulan pimpinan Prabu Cingkaradewa. Sebagai perpanjangan, bahkan sempat beribukota di kawasan timur Cirebon, daerah itu disebut Japura atau Gajah Pura.

2. Berikutnya, Kerajaan Galuh pada masa Kerajaan Pajajaran dipimpin Prabu Anggalarang atau Prabu Dewa Niskala Wastu Kencana. Kerajaan Galuh adalah kerajaan bawahan Pajajaran, wilayahnya sampai ke Cirebon. Tempat tinggal para Rakryan Mantri Kerajaan Galuh, dikenal dengan nama Palimanan. Liman artinya gajah.

3. Berikutnya adalah Keadipatian Palimanan, bekas tempat tinggal para Rakryan Mantri Kerajaan Galuh.


Negeri Macan Putih di Cirebon

1. Dimulai pada masa Kerajaan Indraprahasta. Kerajaan ini bersifat teokrasi, dipimpin seorang Prabu Resi. Kerajaan Indraprahasta berakhir saat dikalahkan oleh Mataram Hindu (dari Jawa Tengah). Konon, saat itu Indraprahasta di bawah pimpinan Prabu Wiratara, Mataram Hindu di bawah pimpinan Raja Sanjaya Harisdharma.

2. Berikutnya adalah Keraton Singapura (Amarta Singa Pura). Dipimpin oleh Ki Gedeng Tapa, mewarisi lokasi ini dari Surawijaya Sakti. Ki Gedeng Tapa dikenal juga dengan nama Ki Mangkubumi Jumajan Jati, mengelola pelabuhan Muara Jati (Cirebon), dan pelabuhan Quro 'Ain (Kerawang, terdapat pesantren Qurotul 'Ain pimpinan Syekh Quro).

3. Berikutnya pada masa Pajajaran dipimpin Prabu Pamanah Rasa atau Prabu Siliwangi. Kemungkinan menggunakan lambang "Macan Putih" ini karena menikahi Nyi Subang Rancang (anak Ki Gedeng Tapa).

4. Carbon Girang, yang meneruskan wilayah Kerajaan Wanagiri, juga menggunakan lambang "Macan Putih".  Konon, Kerajaan Wanagiri dianggap sebagai kebangkitan kembali Kerajaan Indraprahasta. Saat itu, Carbon Girang dipimpin Ki Danusela atau Ki Gedeng Alang-alang atau Ki Gede Pengalang-alang kemudian dikenal sebagai Ki Kuwu Cerbon [Girang], atas usul atau penunjukan Ki Gedeng Tapa. Apalagi kemudian, yang diangkat menjadi Raksabumi (wakil) adalah Raden Walangsungsang (cucu Ki Gedeng Tapa), kemudian bergelar Ki Kuwu Cerbon II.

5. Setelah Ki Danusela Wafat, pusat pemerintahan dipindah oleh Walangsungsang dari Tegal Alang-alang (atau Kebon Pesisir atau Muara Jati) ke wilayah Lemah Wungkuk, menjadi Caruban Nagari atau Nagari Carubanlarang. Walangsungsang kemudian bergelar Pangeran Cakrabumi atau Cakrabuana. Mendapat legitimasi pula dari Prabu Siliwangi dengan memberi gelar lain, yaitu Tumenggung (Prabu) Sri Mangana. Walangsungsang kemudian dikenal pula dengan sebutan Mbah Kuwu Cerbon.

6. Berikutnya adalah Kesultanan Cirebon sejak masa Sunan Gunungjati. Kesultanan Cirebon merupakan kelanjutan dari Nagari Carubanlarang. Sunan Gunungjati adalah ponakan Pangeran Cakrabumi. Karena Sunan Gunungjati adalah anak dari Rara Santang, adik Cakrabumi.



Bersambung ke "Macan Ali adalah Macan Putih Cirebon"
===

Macan Putih

===
Baca juga:
- "Mbah Kuwu Sangkan"
- "Jadi, Grage Itu Apanya Cirebon?"

Didedikasikan bagi:
1. Abah (alm) H. M. Bongkar: Ustadz dan Pendekar Macan Cirebon.
2. Ayahanda (alm) H. M. Thoip Makbul: dijuluki "Macan Cirebon" dalam dunia Badminton (Bulutangkis) Nasional. (Sebelum menjadi anggota TNI-AL)

3 komentar:

  1. gan tau tentang singa sentana dan singa manggala ngga ?

    BalasHapus
  2. dalam tulisan Macan Putih ada kesan istilah Macan Putih (Singa Ali) termsuk jurus Macan Putih terkesan dari tanah Arab yg dibawa ke cirebon, namun ada selintas pengetahuan aku bahwa istilah "Macan" telah terkenal sejak dahulu... sebelum muncul kesultanan Cirebon.
    Ini terasakan oleh diriku pula, kakek buyut dulupun sama dengan kakek bug Dodi... memiliki jurus maca yang dikenal di suna dlm istilah "Pa Macamn", begitu pula menurut nenek dan ibuku sendiri. Konon, memiliki harimau jadi bukan macan lagi (harumah dan macan beda) nenek saya menaksikan dan kadang yang memberi sesaji untuk harimau makhluk halus itu... Ia berkata, apabila diberi sesaji kelapa muda-gula merah-telor-dll di bawah rumah panggung kakek buyutku pada malam hari. Maka, terdengar gemuruh harimau saling meraum berebut makan... Begitu pula ibu saya, telah menyaksikan harimau itu mengikuti ibu saya ketika diperintahkan mengawalnya. Maaf, saya pun alhamdulilah diberi kepercayaan mewarisi jurus "Pa Macan" tanpa belajar.
    Menilik bukti ini, tempat kakek buyut saya tinggal sekarang di Bandung utara... daerah yang sulit ditundukkan oleh orang Cirebon. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa istilah "Macan" atau "Macan Putih" telah ada semenjak belum berdirinya kesultanan Cirebon.
    Mengenai Gajah Putih aku sedang mempelajari istilah Gajah Hoya dengan Gajahayana, bisa jadi kerajaan Gajah pitih pun ada sangkut paut dengan Gajah Hoya wilayahnya ada di mataram kuno.... Maaf untuk Bung Dodi, aku senang apabila sering dengan Anda di darat... kapannya, ya sekedar ngobrol ngaler ngidul leluhur... aku sudah buat artikelnya 1000 hal lebih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. BISMILLAH.
      Rampes. Ahlan Kang Dindin.
      1. Setahu saya, Singa/Macan Ali, memang akulturasi Macan Putih lokal dengan "bumbu" Islam/Arab. Karena Cirebon adalah kesultanan Islam pada masa Sunan Gunung Jati. Namun seperti tertera dalam tulisan di atas, istilah dan lambang kerajaan Macan Putih, telah ada sejak Kerajaan Indraprahasta (sistem teokrasi yang dipimpin oleh seorang Prabu Resi).
      2. Jika memang ada hubungan antara Gajah Putih dengan Gajah Hoya (Mataram kuno), mungkin itulah alasan Mataram berperang dan mengalahkan Indraprahasta.
      3. Sampai era kerajaan Wanagiri (yang dianggap kebangkitan kembali Indraprahasta) berlanjut menjadi Carbon Girang bahkan Caruban Nagari, sebutan Macan Putih belum menjadi Macan Ali. Istilah dan lambang Macan Ali, muncul pada era Kesultanan Cerbon pimpinan Sunan Gunung Jati.
      4. ALHAMDULILLAH, senang juga bisa berkenalan dengan anda. Jika sekali waktu anda berkunjung ke Cirebon, mampirlah ke kediaman saya http://dodi-nurdjaja.blogspot.com/p/blog-page_1142.html di Kebon Panggung, patokan yang paling gampang adalah dekat Stasiun Prujakan, Cirebon. Kita bisa ngobrol ngaler ngidul sepuasnya. Mungkin akan semakin terbongkar semua ingatan masa kecil saya yang telah lama terkubur di alam bawah sadar ini. LIDZATILLAH.


      TFCC

      Hapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.