Matematika Kalender (2)

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Matematika Kalender (2)

Kalender Islam atau Kalender Hijriyah, di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad, dijadikan Sistem Komariyah (Luni/Candra) murni. Kenapa dijadikan murni Komariyah (Luni/Candra)?
Secara dalil akli. Tentu saja untuk keteraturan. Memang masih ada saja perbedaan kecil, utamanya antara penganut Sistem Perhitungan (hisab) dan Sistem Pengamatan (ru’yat). Tapi masih dalam batas toleransi.
Secara dalil nakli. Surat at Taubah 9 : 36-37.
---
Sambungan dari "Matematika Kalender (1) | Masehi"

Kalender Islam (Hijriyah)

Penggunaan Sistem Komariyah - Syamsiyah
Sebelum Sistem Komariyah Murni


Angka 29 hari 12 jam (dalam kurun waktu sebulan Sistem Komariyah), adalah angka umum. Dalam kalender Islam, tanggal 1 jatuh pada saat Bulan mati (sedikit melewati kesejajaran dengan matahari). Maka jika hari ini terjadi gerhana Matahari, artinya besok adalah tanggal 1 bulan baru. Jika tidak terjadi gerhana Matahari, sulit bagi mata awam melihat posisi Bulan, maka pengamatan dilakukan pada fajar sesaat sebelum matahari terbit atau senja sesaat setelah matahari terbenam. Tinggal dicocokkan antara perhitungan (hisab) dangan pengamatan (ru’yat). Secara umum, dipastikan pergantian tanggal dimulai saat matahari terbenam.

Untuk kalenderisasi selain kalender Islam, saya agak ragu untuk menjabarkan detilnya. Kalender Hindu bisa dilihat pada http://www.babadbali.com/, bahkan di situ pun dibahas cara perhitungan kalender Islam (http://www.babadbali.com/pewarigaan/kalender-islam.htm). Garis besarnya saja, Kalender Saka yang bersumber dari India, menerapkan 12 bulan berdasarkan musim, artinya perhitungan berdasarkan Sistem Syamsiyah (Solar/Surya). Diadopsi pula oleh penanggalan Kalender Jawa. Namun Kalender Jawa akhirnya lebih menerapkan dalam Sistem Komariyah (Luni/Candra), yang dalam setahun berjumlah 354 hari, sementara Kalender Saka yang Sistem Syamsiyah (Solar/Surya) berjumlah 365. Ada selisih 11 hari. Untuk toleransi perhitungan, maka setiap 3 tahun (selisih 33 hari) Kalender Jawa menyisipkan bulan ke-13. Nama yang sama pada bulan berikutnya. Lalu bagaimana dengan kelebihan 3 hari? Disesuaikan di bulan lain berdasarkan posisi Bulan mati, atau dimasukkan dalam tahun kabisat. Penerapan Sistem Komariyah (Luni/Candra) yang disesuaikan dengan Sistem Syamsiyah (Solar/Surya) disebut sebagai Sistem Luni-Solar (Surya-Candra).

Konon hal ini dilakukan juga pada Kelender Yahudi, Kalender Hindu-Bali dan semua sistem kalender Luni-Solar lainnya. Seperti disebutkan tadi (pada Matematika Kalender (1)), Kalender Julian (ala Julius Caesar) pada awalnya memakai Sistem Luni, kemudian dengan penyesuaian (menambah 90 hari), menganut Sistem Luni-Solar. Akibat hubungannya dengan Cleopatra, Julius Caesar menerima saran Sosiogenes, seorang astronom dari Alexandria, menerapkan Sistem Solar (Syamsiyah/Surya) murni.

Kalender Arab sebelum masa Islam, pun menerapkan Sistem Luni-Solar.
Muharram
Ditandai berakhirnya musim panas (sekitar September).
Diharamkan berperang.
Shafar
Artinya kuning telur.
Saat daun-daun menguning.
Rabi’ul Awal
Artinya awal masa gugur.
Rabi’ul Akhir
Artinya akhir masa gugur.
Jumadil Awal
Artinya awal masa beku.
Jumadil Akhir
Artinya akhir masa beku.
Rajab
Artinya cair.
Sya’ban
Artinya lembah. Sekitar bulan April
Saatnya turun lembah untuk bercocok-tanam dan menggembala.
Ramadhan
Artinya pembakaran. Suhu mulai naik.
Syawwal
Artinya peningkatan. Suhu makin meningkat.
Dzulqa’idah
Qa’id = duduk.
Musim panas membuat masyarakat Arab malas bepergian, lebih senang duduk-duduk di rumah.
Dzulhijjah
Artinya musim Haji.
Melakukan tradisi Haji ala nenek moyang ajaran Nabi Ibrahim AS.

Bulan ke-13 (interkalasi) ditambahkan di akhir tahun, disebut Nasi’. Dalam kurun 19 tahun, ada 7 tahun yang mendapat bulan ke-13. Pengaturannya tergantung masing-masing Sistem Kalender, tidak ada keseragaman. Misalnya pada Kalender Yahudi, urutan tahun yang mendapat bulan interkalasi adalah 3, 6, 8, 11, 14, 17 dan 19.

Sayangnya, kehadiran bulan Nasi’ sering menyebabkan masalah. Karena tidak ada keseragaman antar suku/kabilah, di tahun di mana ditambahkan Nasi’. Satu suku sudah masuk Muharram (haram berperang), tapi suku lain menyerang dengan alasan masih bulan Nasi’. Pergeseran di bulan-bulan berikutnya pun menimbulkan masalah lain. Masing-masing suku/kabilah mempunyai kalender yang disusun seenak mereka sendiri.

Kalender Islam atau Kalender Hijriyah, di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad, dijadikan Sistem Komariyah (Luni/Candra) murni. Kenapa dijadikan murni Komariyah (Luni/Candra)?
Secara dalil akli. Tentu saja untuk keteraturan. Memang masih ada saja perbedaan kecil, utamanya antara penganut Sistem Perhitungan (hisab) dan Sistem Pengamatan (ru’yat). Tapi masih dalam batas toleransi.
Secara dalil nakli. Surat at Taubah 9 : 36-37.

Sekalipun telah menggunakan Sistem Komariyah (Luni/Candra) murni, namun penamaan bulan pada Kalender Islam atau Kalender Hijriyah, tetap mengacu pada nama-nama bulan yang telah ada.

Disebut Tahun Hijriyah karena (menurut wikipedia) pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi pada bulan September 622.



Nabi Muhammad (beserta Abu Bakar), konon adalah yang terakhir hijrah dari Mekkah ke Madinah (saat itu masih bernama Yastrib). Pada saat itu telah digelar skenario pembunuhan terhadap Nabi Muhammad. Lolos dari berbagai rencana pembunuhan (hari Rabu, 25 Safar, bertepatan pada 8 September 622), Nabi Muhammad bersama Abu Bakar, berencana meninggalkan Mekkah. Esoknya(hari Kamis, 26 Safar atau 9 September) Nabi Muhammad dan Abu Bakar pergi meninggalkan Mekkah. Karena, dikejar oleh pihak Quraisy, Nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi selama 3 hari di Goa Thur. Singkat cerita, tiba di Madinah pada hari Jumat 12 Rabiul Awal (bertepatan 24 September 622), kemudian melakukan Salat Jumat.


Bersambung

=====

Kalender Islam

=====
Didedikasikan bagi Mbah Kuwu Sangkan, pendiri Cirebon pada tanggal 14 Kresna Paksa bulan Caitra tahun 1367 Saka atau bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 849 Hijrah (8 April 1445 M).
Tanggal 1 Muharam adalah HUT Kota Cirebon.
Tanggal 8 April adalah HUT Kabupaten Cirebon.

Tidak ada komentar:

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.