Behind The Screen: Seloka [Kisah Mirip]

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Behind The Screen: Seloka [Kisah Mirip]

Sebenarnya, penggalan pertama tulisan Seloka adalah tentang interpretasi Serat Calon Arang.  Namun saya jadikan tulisan sambungan "Seloka [Kisah Mirip] Bagian 2 | Lanjutan" setelah "Seloka [Kisah Mirip] Bagian 1 | Blusukan Jokowi".  Dengan harapan, tulisan Bagian 1 akan lebih menarik perhatian karena saat itu masih dalam nuansa banjir Jakarta dan blusukan ala Jokowi.  Tapi tidak terbantu juga.  Hingga hari ini total tayangan "Seloka [Kisah Mirip] Bagian 1 | Blusukan Jokowi" masih mentok di 37 tayangan.  Dari total tayangan via mesin pencari google (lalu lintas tertinggi), pencarian tertinggi tetap masih "Mbah Kuwu Sangkan".
---






Kesulitan saya dalam menulis sesuatu adalah AWAL.  Mungkin terdengar klise.  Tapi itulah kenyataan yang saya alami.  Untuk mengatasinya, saya harus memaksakan diri menuangkan isi pikiran saya di layar editor (Ms Word, Wordpad atau Notepad).

Celakanya, ketika tulisan mulai mengalir, gagasan isi tulisan menjadi liar ke mana-mana.  Itulah sebabnya, saya tak pernah cukup membuka satu layar editor.  Ketika fikiran saya berpindah, maka saya pun harus membuka editor baru untuk mengetik. Ketika saya terlalu banyak membuka editor bersamaan dengan membuka internet, komputer saya mulai bermasalah.  Maka segera saya save satu per satu editor tulisan saya.  Tak peduli mau diberi judul apa.  Selepas itu, saya harus menutup juga browser Firefox saya dan Shut Down komputer.  Kadang saya terlambat melakukan itu, dan komputer keburu lemot sekali.  Maka jalan satu-satunya adalah restart paksa (tekan tombol on/off) dan merelakan draft tulisan hilang tak tersimpan. Jika pada kondisi ini, fikiran saya teralihkan oleh hal lain, misalnya kegiatan harian lain, maka tingkat kesulitan akan kembali dimulai lagi dari AWAL.

Kesulitan berikutnya adalah mengatur plot atau alur tulisan dan membuang semua paragraf sumbang.  Kadang saat saya merasa sayang untuk membuang, maka saya buka laman editor baru untuk menyimpan paragraf-paragraf tersebut.  Dan hasilnya adalah file-file (sampah) yang kadang berjudul DocumentXXX (pada Ms Word dan Wordpad) atau UntitledXXX (pada Notepad).  Sering kali saya malas untuk membuka atau membaca ulang file-file sampah ini.  Kecuali ketika menulis sesuatu yang lain dan teringat ada yang berhubungan dengan salah satu file sampah saya, maka saya akan aduk-aduk dengan bantuan search maupun manual.

Kesulitan terakhir adalah bagaimana saya memangkas dan menutup tulisan saya.  Ini tidak lebih gampang dari AWAL membuat tulisan.

Beberapa yang tercecer dari "Mbah Kuwu Sangkan", "Ronggeng Bugis" dan "Sintren", adalah pencarian saya dalam membandingkan tahun Masehi, Hijriyah dan Saka.  Banyak hal yang saya cari tapi tidak saya temukan (meski dengan bantuan tongkat Google).  Tapi beberapa (sampah) yang saya temukan dari hasil pencarian dengan mesin tongkat Google itu dan saya kumpulkan.

Tulisan dengan judul Seloka, sudah saya rancang sejak lama.  Tapi tak pernah rampung.  Itulah sebabnya selalu diselang oleh tulisan-tulisan saya yang lain.  Bahkan beberapa diantaranya harus dilakukan dengan cepat (bahkan terburu-buru) karena kejar tayang, misalnya "Bulan Safar di Cirebon" dan "Muludan di Cirebon", dan memang sumber teratas pada kedua tulisan tersebut adalah dari mesin pencari Google.  Sedangkan judul dengan tema abadi ("Mbah Kuwu Sangkan", "Ronggeng Bugis" dan "Sintren") menjadi sepi tetapi tetap mendapat kunjungan dari mesin pencari Google, Yahoo dan Bing.  Pencarian tertinggi masih pada "Mbah Kuwu Sangkan".  "Sintren" sesekali ada di pencarian.  "Ronggeng Bugis", relatif tak ada pencarian, hanya pernah terbantu dari grup-grup Facebook, tempat tulisan saya pernah di-link.

Sebenarnya, penggalan pertama tulisan Seloka adalah tentang interpretasi Serat Calon Arang.  Namun saya jadikan tulisan sambungan "Seloka [Kisah Mirip] Bagian 2 | Lanjutan" setelah "Seloka [Kisah Mirip] Bagian 1 | Blusukan Jokowi".  Dengan harapan, tulisan Bagian 1 akan lebih menarik perhatian karena saat itu masih dalam nuansa banjir Jakarta dan blusukan ala Jokowi.  Tapi tidak terbantu juga.  Hingga hari ini total tayangan "Seloka [Kisah Mirip] Bagian 1 | Blusukan Jokowi" masih mentok di 37 tayangan.  Dari total tayangan via mesin pencari google (lalu lintas tertinggi), pencarian tertinggi tetap masih "Mbah Kuwu Sangkan".

Karena interpretasi ini lebih bernuansa subyektif (meskipun bisa dikatakan obyektif berdasarkan subyektivitas kolektif), maka saya banyak membuang paragraf-paragraf hasil pencarian google.  Saya kembalikan ke ide awal tulisan.  Tentu saja saya memiliki referensi.  Tapi saya memilih tidak membuka referensi saya.  Pertimbangan utama adalah, tulisan yang lebih bernuansa subyektif akan lebih mengundang kontra.  Apalagi jika referensi yang saya ungkap, tetap tidak memuaskan, bahkan akan dijadikan argumen balik pada setiap celah-celah subyektivitas saya.

Meski demikian, tulisan asli ("Seloka [Kisah Mirip] Bagian 2 | Lanjutan") saya memang hanya berupa garis besar saja.  Karena saya banyak lupa dengan nama-nama tokoh sejarah yang terkait (apalagi tahun-tahunnya) dan terbantu dari google dan Wikipedia.  Bagi para pembaca yang mempunyai kesamaan subyektivitas, tentu mengetahui lebih detil dari yang sekedar garis besar pada tulisan saya, dan saya berharap tidak mempersoalkan detil (semisal hitungan huruf jawa, huruf hijaiyah, maupun nama-nama yang terkait).

Kalaupun toh ada pertanyaan-pertanyaan yang lebih detil, saya tinggal kasih saran untuk googling atau cari di Wikipedia.


Itu saja.

===

Behind The Screen: Seloka [Kisah Mirip]

===

Tidak ada komentar:

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.