Apa Itu Rumah Kreatif? #KomunitasNusantaraES

Dodi Nurdjaja

Header Ads

728 x 90 ads
728 x 90 ads
DMCA.com Protection Status
Copas harus se-izin pemilik konten

Apa Itu Rumah Kreatif? #KomunitasNusantaraES

Disebutkan bahwa, "Rumah Kreatif ini didisain untuk menampung semua komunitas". Nah, rumah komunitas ini dalam pengertian "house of community" atau "home of community"?
Itu pertanyaan ketiga.
---
by Dodi Nurdjaja


Hari itu, tanggal 16 Agustus 2016, saya ada undangan dari www.indoblognet.com via email. Acaranya adalah diskusi bebas. Bentuk kegiatannya adalah Silaturahmi Komunitas Nusantara 2016 : Membangun Indonesia. Temanya "Membangun Sinergi Ekonomi Kreatif". Bertempat di Bangi Kopitiam, Jalan Tuparev No. 323, Cirebon.

Sebenarnya, badan saya masih kurang fit untuk datang ke acara ini, mengingat saya masih sangat letih setelah mengikuti kegiatan Gotrasawala 2016, 12 - 14 Agustus 2016 yang baru lewat. Apalagi pada malam terakhir, 14 Agustus, stamina saya benar-benar ambruk dan tak bisa ikut hadir di acara Gotrasawala 2016 yang bertempat di Taman Air Goa Sunyaragi itu.

Akan tetapi, mengingat dalam acara diskusi ini tidak hanya blogger se-wilayah III Cirebon yang diundang, namun juga dari perwakilan komunitas-komunitas lain , maka saya forsir stamina saya untuk bisa bertemu dengan mereka di acara diskusi ini.

Diskusi ini dipimpin oleh seorang moderator bernama mbak Dian. Ada dua orang pembicara yaitu pak Edi Soeparno dan mbak Nissa Rengganis. Pak Edi adalah seorang Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) dan seorang seorang profesional di bidang keuangan (atau bisa disebut sebagai pakar di bidang ekonomi). Mbak Nissa adalah Founder komunitas Terang Sore.
Diskusi Rumah Kreatif
dari kiri ke kanan:
mbak Nissa Rengganis (pembicara), pak Edi Soeparno (pembicara), dan mbak Dian (moderator)
Dok: Dodi Nurdjaja


Diskusi ini, dibarengi juga dengan live tweet dari semua (atau mungkin tidak semua tapi beberapa) peserta diskusi secara aktif dengan tagar #KomunitasNusantaraES (https://twitter.com/hashtag/KomunitasNusantaraES?src=hash), hingga taggar itu masuk dalam trending topic. Meski tidak sampai menyeruak (atau mungkin sempat) di posisi teratas, dan masih bertengger meskipun diskusi telah usai.

Tiba-tiba Pak Edi sudah bicara tentang Rumah Kreatif. Rumah Kreatif ini didisain untuk menampung semua komunitas yang ada di wilayah III Cirebon, atau sering disebut Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan). Rumah Kreatif yang rencananya akan dibangun ini berlokasi di sekitar Jalan Kali Baru, kota Cirebon.

Terus terang, saya tidak bisa fokus atau konsentrasi mengikuti diskusi ini. Banyak alur yang tidak saya pahami. Saya ikutan live tweet karena berharap tweet-tweet saya akan saya baca kembali untuk bisa lebih memahami alur diskusi. Namun, tweet-tweet saya pun terasa seperti beo yang mencomot kata-kata saja.

Di tengah-tengah diskusi, akhirnya saya mencoba memahami dari tweet-tweet yang terlontar dari tagar #KomunitasNusantaraES. Makin berseliweran tweet yang saya baca, bahkan lebih banyak yang bukan dari peserta diskusi dan tidak berhubungan sama sekali dengan apa yang didiskusikan, semakin pusing saya membacanya.

Akhirnya saya mencoba bertanya-jawab secara berbisik-bisik dengan teman saya Ibnu (atau Wisnu) koordinator E-Tuli. Dan lagi-lagi saya gagal paham.

Mungkin, ada baiknya saya googling saja dengan kata kunci "rumah kreatif". Dan itulah yang kemudian saya lakukan.

Dan, agar tidak penasaran, pada saat sesi tanya jawab, saya pun mencoba bertanya. Namun, karena saya pun tak bisa memampatkan esensi dari pertanyaan saya, maka saya pun jadi berpanjang lebar dulu, mencoba membeberkan posisi persisnya dari apa yang saya tanyakan. Dan sudah pasti, teman-teman blogger yang sudah biasa mendengar saya mendongeng (selaku folklore blogger), lebih banyak yang tertawa, dan akhirnya ada yang nyeletuk, "langsung ke pertanyaannya aja kang Dodi."
Diskusi Rumah Kreatif
"langsung ke pertanyaannya aja kang Dodi."
Doc: https://twitter.com/mtaufik45/status/765455337310650368


Tapi, ya, tadi itu, tetap saja tidak bisa kalau langsung ke pertanyaannya. Karena jadi tidak sampai menyentuh inti pertanyaan itu sendiri.

Jadi pada saat diskusi itu, ya sudah, tinggal ikuti saja terus hingga acara diskusi selesai.

Lalu sesi foto bersama. Dan ditutup dengan makan dan ramah tamah.
Diskusi Rumah Kreatif
Peserta Diskusi.
Dok: Fauzi


---

Nah, bagi para pembaca blog, mumpung di blog saya sendiri, apa pun yang mau saya tanyakan, bisa saya jelaskan dulu duduk persoalannya.

Oke. Begini. (Dongeng dimulai lagi)

Kalau sekedar kata "rumah", sebenarnya dalam terminologi bahasa Inggris terdapat kata "house" (bentuk nyata, bangunan tempat tinggal) dan "home" (bentuk abstrak, tempat kita pulang). Lalu dalam frase "rumah kreatif" ini lebih bermakna bentuk nyata "house" atau bentuk abstrak "home"?
Itu pertanyaan pertama.

Untuk kata "kreatif", ini jelas adopsi dari bahasa Inggris "creative", sebuah kata sifat. Kata dasarnya adalah "create" (menciptakan). Jika diposisikan sebagai subyek aktif, menjadi "creator" (pencipta atau pembuat). Jadi, arti dari "creative" adalah bersifat menciptakan, atau lebih tepatnya bersifat memiliki daya cipta.

Kembali lagi. Jadi apa sebenarnya yang dimaksud dengan "rumah kreatif"?
Itu pertanyaan kedua.

Disebutkan bahwa, "Rumah Kreatif ini didisain untuk menampung semua komunitas". Nah, rumah komunitas ini dalam pengertian "house of community" atau "home of community"?
Itu pertanyaan ketiga.

Katakanlah kita berasumsi bahwa "rumah" yang dimaksud ini lebih dekat ke pengertian "home". Artinya, pada frase "rumah kreatif" ini mengacu kepada pengertian "tempat atau wadah bagi segala apapun atau siapapun yang bersifat memiliki daya cipta". Tempatnya atau wadah bagi orang-orang yang berpikir kreatif.

Tapi, apakah memang itu yang dimaksud?

Sering kali, segala apa yang berhubungan dengan "rumah", saya lebih menggunakan terminologi bahasa Arab Al Quran.

Maka hendaklah mereka tunduk kepada rab (aturan), yang mengatur rumah.
Yaitu thoam (memberi makan) dari rasa lapar, dan aman dari rasa takut.
(Al Quraisy ayat 3 - 4)

Maka rumah yang dimaksud, memiliki perluasan arti ke arah rumah tangga atau institusi keluarga. Maka "thoam dari rasa lapar, dan aman dari rasa takut", adalah bagian dari aturan rumah tangga. Dan dalam terminologi Yunani, aturan rumah tangga itu disebut sebagai ekonomi.

Jika memang demikian, maka terminologi "rumah kreatif" berkaitan erat dengan "ekonomi kreatif".

Sehingga, pengertian "Rumah Kreatif ini untuk semua komunitas", berarti "Ekonomi Kreatif ini untuk semua komunitas".

Sampai di sini, saya melihat ada andil pemerintah.

Dalam pasal 21 RUU ekonomi kreatif diatur mengenai kewajiban kepala daerah untuk membentuk rumah kreatif di setiap daerahnya guna mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif didaerah tersebut. Ipang menjelaskan jika RUU tersebut nantinya diundangkan maka tidak ada alasan bagi kepala daerah untuk tidak melaksanakannya mengingat ancaman serbuan pengusaha kreatif dari luar negeri sudah didepan mata.
(http://economy.okezone.com/read/2015/10/25/320/1237729/rumah-kreatif-bisa-topang-perekonomian-daerah)

Ada beberapa tempat yang tersebut di internet (melalui googling) yang berkaitan dengan rumah kreatif. Beberapa bisa saya sebutkan misalnya http://www.narakreatif.co.id/ sebuah web yang berisi informasi detil tentang sebuah lembaga berbadan hukum yayasan. Ada pula http://rumahkreatifbandung.com/ yang merupakan bentuk web/blog online shop. Ada lagi http://desamembangun.or.id/2013/04/strategi-pemberdayaan-desa-lewat-rumah-kreatif/ yang berupa artikel tentang suatu kegiatan di wilayah Jati Tujuh, Majalengka, yang berdasarkan program kerja yang sudah direncanakan.

Jika memang terminologi "rumah kreatif" berkaitan erat dengan "ekonomi kreatif", maka saya merasa perlu mempertegas kembali apa dan bagaimana tipikal orang-orang yang bertindak sebagai institusi, tipikal orang-orang yang ada di dalam institusi, dan tipikal institusi komunitas-komunitas itu sendiri di Cirebon (baik kota maupun kabupaten). Sejauh mana, antara orang-orang dan komunitas-komunitas ini bisa bersinergi dalam satu atap "rumah kreatif" atau "ekonomi kreatif"?

Suka atau tidak suka "rumah kreatif" atau "ekonomi kreatif" itu membutuhkan Grand Design.

Itulah kenapa saya menyinggung kata "sinergi" (sesuai tema diskusi juga bukan?). Sekarang sudah bukan zamannya menyamakan Visi dan Misi. Kenapa?

Tiap komunitas terbentuk karena kesamaan dan persamaan, biasanya hoby atau minat. Maka tiap komunitas akan membangun visi (tujuan filosofis). Kemudian diperjelas dalam bentuk misi (tujuan yang lebih teknis dari visi). Lalu dijabarkan lagi dalam bentuk tujuan jangka panjang, tujuan jangka menengah dan tujuan jangka pendek (yang lebih teknis lagi). Setelah jelas semua tujuan itu, barulah diusung rencana-rencana kegiatan (yang benar-benar teknis) yang sesuai dengan tujuan-tujuan filosofis hingga teknis yang telah dirumuskan tersebut. Dari alur ini, jelas tiap-tiap komunitas pasti memiliki visi dan misi yang berbeda. Di tingkat tujuan-tujuan yang lebih teknis, mungkin akan banyak kesamaan. Namun implementasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan, bisa berbeda lagi.

Bagaimana jika ada komunitas yang sekedar hobby dan sekedar ada kegiatan, tanpa tahu atau tanpa punya visi, misi, dan tujuan?
Bikinlah pelatihan di kalangan sendiri. Ada banyak alat analisisnya, semisal ZOPP (Ziel Orientierte Project Plannung; Perencanaan partisipatif berorientasi tujuan), RBM (Result Based Management; Manajemen Berdasarkan Tujuan), SWOT (Sthrength-Weak-Opportunity-Threat), atau metode analisis lainnya. Karena visi, misi dan tujuan komunitas itu hanya bisa dirumuskan oleh anggota komunitas itu sendiri. Fasilitator yang mengerti metode-metode analisis, hanya bisa membantu merumuskan.

Di sini lah kata sinergi memainkan peranan. Kegiatan-kegiatan yang relatif berbeda, bisa dilakukan bersamaan jika ada yang memiliki beberapa kesamaan tujuan. Atau, meskipun memiliki tujuan-tujuan yang berbeda, tapi bisa saling melengkapi dalam implementasi kegiatan-kegiatan teknis karena saling membutuhkan.

Dan pertanyaan intinya. Apakah harus dengan keseragaman nama "rumah kreatif"?

Mari kita agendakan lagi pertemuan, kalau masih merasa perlu untuk membahas semua hal tadi. :D

2 komentar:

  1. Ceritanya jangan kelar dulu, saya lagi pesen gorengan ma kopi kang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah sih, wenten tamu.
      Mangga mlebet mawon. Tumbas gorengan lan kopi-e teng warung warung kula mawon.
      Sok mangga linggih.
      Matur kesuwun sampun mampir teng riki. :D

      Hapus

Iklan dan Promosi terselubung masih boleh, asal cantumkan komentar yang sesuai tema.
Iklan/promosi yang berlebihan dan komentar yang tidak sesuai tema, akan dihapus.
Komentar spam akan dihapus juga.

Copyright © 2011 Dodi®Nurdjaja™ . Diberdayakan oleh Blogger.